1. Dan engkau meluka diantara para iga itu, menjadikan buta pada cemburu. Usah kau melulu dalam prasangka; aku hanyalah pengasah rindu.

2. Aku berjalan ke hutan untuk mencarimu. Tapi aku menemukan sesuatu lebih; kesepian hatimu.

3. Aku tulis rindu di kertas, larik-larik merdu seiring. Bukanlah jumlah kuhirau; melainkan cinta yang tersesak.

4. Aku menantimu bercinta di atas romaku. Menari getir bersama engkau yang aku kasihi. Aku berbicara kesetiaan; kisah awan pada hujannya.

5. Gundah gulanah resah jiwa, sepi menari sunyi sendiri. Aku berjalan tanpa kaki; engkau yang memberi hati untukku melangkah.

6. tak ada yang lebih indah dari kau yang menerimaku atas ketidaksempurnaanku.

7. Tak ada yang lebih dusta daripada aku yang berkata; cinta itu dusta.

8. Bahwa cinta itu merdu sayang, seperti alunan burung hantu yang merindu. Bahwa hidup itu indah sayang; kamu yang bertengger di dadaku.

9. Bukankah cinta itu tak berwujud; angan yang beterbangan di langit-langit malam.

10. Bukanlah aku mengejar kaki; aku ingin diakui. Walau hati menahan tatih; aku yang tak ingin memberimu lirih.

11. Aku bukan kalkulus, bukan falsafi. Aku; pejalan kaki yang menyetubuhi harimu, dan Kamu; estetika yang aku agungi.

12. Terimakasih cinta; kau yang mengajarkanku cara mengeja rindu; sabar membaca dengan terbata, pada setiap larik2nya.

13. Kubiarkan itu menggores denyut nadiku, yaitu rasa yang tajam dan tegas ketika dipertanyakan keberadaannya; cinta.

14. Karena cinta air mata, terangkum dalam rindu yang menggebu. Dan aku malam yang melindungimu, menjaga lelap di tidurmu.

15. Dan aku telah hilang, tenggelam kelam di dasar samudera terdalam. Tapi aku melihat keindahan dalam kegelapan, mutiara berkilauan; kamu.

16. Sejuta mil itu bukan jumlah yang sedikit, sayang. Kutempuh itu karena cintamu padaku memberikan aku kekuatan untuk melangkah.

17. Aku bertualang menyusuri bumi, dari lautan hingga daratan. Tapi aku menemukan sesuatu yang lebih dari sekedar jati diri; kamu.

18. Diantara dera, luka, dan siksa, aku memilih cinta. Entah mengapa itu meneduhkanku, walau dera, luka, dan siksa, termasuk didalamnya.

19. Mencintai; detik waktu yang ku lalui untuk menanti. Hingga tiba kalanya cinta mencintaku.

20. Aku terperangkap dalam kelamnya malam. Menanti dirimu membawa secercah harapan, dan datang memeluk tubuhku yg usang.

21. Aku di sini menunggu bidadariku, datang menjemputku untuk kembali. Pada kasih kekasih yang fasih aku memohon cinta.

22. mencintai; ketika bertahan di atas kegoyahan. Ketika berjuang walau lelah kepayahan.

23. Terkadang sulit melawan rasa rindu, menentang rasa sendu. Bila sesekali aku melihatmu, seakan pisau menghunjam jantungku.

24. Cinta; sebuah animasi yang kompleks.
Lambang perasaan terungkap puitis.

25. Mereka tertawa melihatmu memasang duri dalam diri. Dan aku meringis pada duri yang tak sampai hati.

26. Cintaku mencintamu takkan mati, walau dibunuh berkali-kali. Cintaku mencintamu takkan menangis, walau dicucuri air mata bengis.

27. Cinta ditaburi epilog impian, ketandusan kasih merentangi gurun perasaan. Aku masih menanti, saat kemarau di airi hujan ketabahan.

28. Aku tahu cinta bukan sekedar indah. Ada kala dicucuri luka dan lirih. Tapi aku menemukan yang terdalam; kamu indahku yang terlirih.

29. Aku terbalut sepi menanti, diantara rindu yang belum terbasuh. Aku sang pengutip serpihan warna, melepas benak pada lingkaran waktu.

30. Aku tewas pada warna kerinduan, menatap sepi kelam ketika mentari melambai merah. Aku sendiri berjuang, demi hati yang diperah.

31. wajah umpama bidadari, kugapai namamu tegak baiduri. Di dalam lamunan kita menari, memapahku untuk berlari.

32. Kalaulah aku sekuntum bunga, akan kuhiasi duniamu merekah. Kalaulah aku pepohon, kan kupuas dahagamu dengan buah cintaku.

33. Cerita cintaku dipudar oleh waktu, tapi ku takkan meluluh. Tulusku mencintamu, ikhlasku mendambamu, menjadi kekuatanku.

34. Terima kasih di atas segala indah, tidak mengeluh walau digamit keperitan; kekuatan cintamu.

35. Kau umpama pelita hidupku, wanita dari sebutanmu. Mengingatkanku kepada ibu, tulus kasih membalut hati; cinta mencintaku

36. Senja memapah aku, untuk lari dari kelam asa. Kau jua penghuni lara, pada aku kau ukirkan pelantaran rasa; kemerahan hati.

37. Kuterpa diri dengan asa dan rasa. Andai diri dapat berkata, akan kulontar pada dunia; tentang cinta dan luka.

38. Jiwa rapuh teguh matlamat, disimbah racun tidaklah luruh. Dikau mentari dipercik misteri dibelai doa; mencinta yang abadi.

39. Mentari subuh mengejar senja, kekal pada azali kejadian. Kelawar berlegar di malam sepi, direstu setanggi setangkai doa; asaku.

40. Aku hampar duri-duri, sukar berlari tanpa hati. Dalam asa kuterbiar sebenar kuasa, cinta, nafsu, dan luka dari.

41. Bumi neraka dicucuri dipersia, dibendung mahadzir dan matlamat. Takkan hati menikam simpati, biar cabaran merasai.

42. Aku menulis sederhana, teruntuk hati yang bersahaja. Menanti cinta mencintaku, hingga asa akhir pada waktunya.

43. Aku berjalan di ramai kota, tetap lirih mengiris sepi. Aku berjalan telusur malam, tetap bintang menyinari; rembulan terlupa.

44. Aku punguk yang merindu, akan hadir dan rasamu. Semua hati terselami, hanya kau yang aku tuju.

45. Kau elok bak rembulan, seindah lukisan menyinari. Biar cemburu merasuki, bahwa aku benar mencintai.

46. Detik malam kulalui, dalam cumbuan yang membasahi. Takkan kering jiwaku ini, denganmu yang mencintai.

47. Pelukanmu membasahiku, dari keringnya dahaga dunia. Takkan terlepas genggamanku, tenggelam dalam sejatinya cinta.

48. Takkan habis inspirasiku, walau lelah dimakan waktu. Takkan sirna cintaku, walau kau bukan milikku.

49. Kan kutunggu waktuku, disaat kau mencintaku. Kan kujaga dirimu, saat cinta mencintaku; dirimu utuh milikku.

50. Aku mencintamu, bak imanku kepadaNya. Aku menghargaimu, bak ciptaanNya dari rusukku.