51. Cita cintaku adalah mencintamu berharap cintamu jua mencintaku dan bercinta dalam cerita cintaku yang sederhana ini.

52. Cinta seperti waktu, yang takkan habis dimakan zaman. Hingga akhir dunia, harapku kita dipertemukan kembali oleh sang maha cinta.

53. Degup jantungku takkan terhenti, oleh pedang tertajam sekalipun. Dan aku mati, bila kau pergi dari hatiku.

54. Kecantikanmu; menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu. Walau memabukkan, tapi aku senang bersamamu.

55. Ketika aku sedang jatuh cinta, jagalah cinta itu. Dari cerca dan hina, dari luka dan dosa, agar semua menjadi terpuji.

56. Ketika aku berucap cinta padamu, biarlah semua dunia tahu. Agar kelak aku tak jatuh, dalam cinta yang bukan karenamu.

57. Kau; orang ketiga yang aku cintai. Setelah sang maha cinta, dan yang terkasih ibu.

58. Aku mencintaimu, ingatkan aku akan sebuah akhir. Agar aku tetap bersamamu dan tak pernah berakhir.

59. Binar matamu biru nun teduh, diiringi biorama irama malam. Tak terbantah tetes permatamu biru; aku terhanyut melodi senjamu.

60. Ku mendekapmu dalam peluk, takkan kulepas selaya hitamku. Aku terali dalam hatimu dan sayangku adalah nadimu.

61. Pecah rindu dalam keriangan, ketika cinta berpadu cumbu. Jiwa kelam tak sampai di angan, ketika hati sedang berandu.

62. Begitu indah, merdu, kian merayu; nyanyian camar disaat kita mencinta.

63. Begitu tipis perbedaan cinta dan luka; luka untuk mencinta dan cinta dalam meluka-luka.

64. Kamu; bingkai malam yang membungkus sepi. Tertahan oleh cintamu, terbawa dalam melodi indahmu.

65. Aku tertatih-tatih melirih diantara larik-larik yang tersirat di tiap bait. Kamu cita-cita yang mencinta dalam cerita tak berbahasa.

66. Aku dusta pada malam tentang rindu. Aku tak mencinta, tak punya arti dari hadirmu; cemburu berbisik sendu.

67. Aku mencintamu ketika sedang terlelap. Agar malam tak merenggutmu dari tidurmu.

68. Aku merindumu ketika membuka mata. Mentari pagi tak kurelakan untuk menyentuhmu sebelumku.

69. Aku menantimu di kala senja; kuikat rembulan untuk menaruhmu dalam bingkai malamku.

70. Kau payung hatiku, pelindung dari hujan, panas, dan deru kesedihan; cintaku yang mencintaku.

71. Rindu itu pedih, sayang. Seperti memakan buah khuldi dan aku terhempas jatuh karenanya.

72. Aku selalu terjaga, menunggumu menyapa di tengah kegalauanku. Aku selalu menanti, kata-kata rindu dari setiap gerak bibirmu.

73. Bukan kopi membuatku terjaga, tapi adukanmu di bibir gelas yang seolah bicara padaku; “malam ini jangan tidur, sayang”.

74. Jangan takut terhina, sayang. Karena disitu aku membelamu, dari segala nista yang paling jahat.

75. Seperti mata-mata kecil memandang kita, cemburu di balik awan di kala senja. Aku bernaung atas nama cinta; tulus kasih yang tak terbantahkan.

76. Aku kembali labil, merasakan deru rindu menggebu di dada. Aku kembali muda, nan abadi melingkari hari dengan dirimu.

77. Aku mencinta, dari kedalaman sudut hatimu; perih luka yang kau semai. Bukan cinta-cinta yang lainnya.

78. Cintailah yang mencintamu, bukan mengadon cinta yang mencari. Akar kata ku luruh, demi rangkai ku rindu.

79. Kau semaikan larik-larik merindu pada nada sendu. senja menyajak, dan aku membiru takut kehilanganmu.

80. Di maya atau nyata, aku mencintamu. Di cinta dan tak cinta, aku menyayangmu; penantianku.

81. Aku mencari jiba sebagai pemuas dahaga. Tapi aku menanti satu yang pasti; rindu yang sudah.

82. Aku, dengan segala keterpurukanku. Dalam telaga biru, kuhirup air mata dewa-dewi. Tak letih mencintamu, walau aku lelah terkutuk.

83. Hujan tak kian reda; sikap rindu yang melulu. Dan aku tak pernah jera, mengagumi makhluk terindah; kamu.

84. Cintamu tanpa syarat, menepis peluh dan kesahku. Kau makhluk sempurna yang terlupa, bahwa dirimu sangat berharga dilupa.

85. Kau, sempurna yang kadang lupa. Hadirmu menepis peluh, kesah. Kau terlalu berharga tuk dilupa; wanita.

86. Kasih dengarlah riuh jiwa , tentang cinta, luka, dan indah. Karena kita dirangkum rindu, beriak hati berbisik sendu.

87. Sejatinya cinta; luka yang menguak luap dari nadi yang tergores peluh rindu yang abadi.

88. 8; Angka sempurna, tak ada garis putus di segala sisi. Seperti kita yang saling meluka, saling melengkapi.

89. Aku menyukai mie kuah seperti mencintamu; kenyang atas segala luka yang tak jera.

90. Kasih sayang yang bertubi-tubi melalui luka-luka yang menganga; sajak cintaku.

91. Mengenang masa lalu; kita terpaut yang disebut itu cinta. Kini kita di surga, sayang, dan kau tetap bidadari terindah

92. Buat apa yang lebih, jika aku telah akhir mencari; aku yang telah menemukanmu, yaitu cinta sejati.

93. Kala cinta kupuja, aku lupa akan imanku. Kala aku bertengadah, tak lupa aku mendo’akanmu.

94. Aku hanya pengagum hati, penikmat cela, perindu luka; yang bersemayam di dalam cintamu.

95. Mata adalah pengikat hati, cermin dari segala rupa; bola-bola cinta yang menggelinding di labirin, mencari celah rasa.

96. Mata adalah tempat pertemuan, dimana cinta dan luka berbicara. Dengannya kau membunuh rindu, darinya kau meluka.

97. Jangan kau bertanya “kenapa” aku mencinta, jawabannya adalah “bagaimana” cara ku melukaimu.

98. Di kala rembulan meninggalkan peraduannya, kumohon kau tuk tak letih mencintaiku.; sebait doa dalam setangkup rindu.

99. Aku dan kamu, tenggelam dalam remang senja, terhanyut panorama cinta. Dalam riuh bunyi, cumbu murka akan rindu yang maha.

100. Telah lama ku sanjungkan sosokmu dalam perputaran laju hidupku. Kecantikan, keindahanmu, ramuan yang memabukkan diriku.