101. Di bingkai malam rembulan berandu. Biarlah kupendam rindu yang menderu-deru. Agar kelak tertumpah dahsyat dihadapanmu.

102. Aku; hati yang merindu, sendu yang mendayu, galau yang menderu-deru, cinta yang melulu.

103. Aku adalah rindu dan kau adalah sendu. Kita berpadu dalam sebuah melodi yang merdu.

104. Kadang, berpuisi itu tak seindah meluka/secantik yang kumuh/semurni pendusta/sebenar dosa/seromantis yang buta.

105. Tugasku adalah mencabut nyawamu, bukan cintamu. Bila tuhan berang, aku akan kembali padamu.

106. Seakan mata ini bersayap, aku dapat melihatmu dari kejauhan. Dan hati ini merayap, aku dapat merasakan getaran-getaran cinta.

107. Semua untukmu; aku buka celanaku menunjukkan kejantananku, aku buka hatiku memperlihatkan kelemahanku.

108. Tak perlu membuka celanamu, aku tahu ketulusanmu. Tak usah membuka lebar-lebar hatimu, aku mengerti kecintaanmu.

109. Lebih baik tidak ada yang tahu; daripada semua berlomba untuk saling mencaci rindu.

110. “Aku mencintaimu”; kata tabu yang selalu menjaga kita dalam suatu wadah; kasih sayang.

111. Biarlah cemburu mengintip kita; aku bukan berlomba untuk bercinta, melainkan mencoba membangun hati untuk mencintaimu.

112. Tak pernah bosan aku mendengar cerita pilu yang mengiris hatimu; tentang lirih, dan pedih, berharap kau dapat kudekap dengan malam yang tak kunjung pagi.

113. Perjalanan itu cinta, tersenyum membahana saat kau tiba. Mengorbankan ragaku; membuatmu hidup dalam kehidupanku, kita.

114. Kuhisap darahmu, penuh cinta.
Biar membekas di lehermu; agar cinta abadi, terbercak.

115. Kau adalah cinta yang tak pernah terkuak, kau tak pernah padam. Kau paradigma cintaku, kaulah terakhirku.

116. kau hadir di dalam ku, dengan sebuah pilihan yang telah terlukis di atas telaga senja, yang tak pernah menjadi kelabu.

117. Kubawa sejuta rindu, hangat melekat pada jiwa yang terpikat. Kujadikan kau sebagai puisi cintaku, menemani sampai akhirku.

118. Melayang ku di terpa hembusan angin, membawaku terbang. Kunikmati, setiap sentuhanmu mengaliri romaku.

119. Dengan melihatmu aku indah, terlebih senyummu. Karena cinta tidak buta, cinta melihat lebih banyak, bukan lebih sedikit.

120. Kau; setiap detik yang kulewati, hadirkan sebuah keajaiban lewat telinga, mata, dan kulitku yang tertidur pulas.

121. Bola matamu; binar kehidupan yang selalu melihat cinta untukmu dalam setiap segi hatiku.

122. Penciumanmu; mengetahui bagaimana cara menghormati dan menghargaiku, si setiap niatanku, baik itu busuk maupun tulus.

123. Telingamu; pendengar setiaku di kala aku bercerita tentang suka dan duka.

124. Bibirmu; daging lembut yang menyajikan rasa ketulusan lebih daripada sajak-sajak cinta.

125. Sentuhanmu; penenang di kala gundahku, kasih sayang dikala kita bercumbu.

126. Cinta; kehidupan abadi yang hanya dapat dirasakan. Keindahan panorama di dalam sebuah labirin hati.

127. Lirih; luka yang tersayat di nadi-nadi cinta, dimana aku disini membasuh perihmu.

128. Dusta; di saat aku berbohong karena takut kehilanganmu.

129. Jujur; aku yang menciummu dengan berbagai aroma; riang, kesedihan, duka, dan rindu.

130. Sariawan; adalah rasa sakit yang menderu, menahan rindu dengan sendu.

131. Aku akan mengajarimu cinta yang sederhana; seperti kulit yang meluka akan menutup dengan sendirinya, tanpa bantuan obat.

132. Akulah lapisan kulitmu yang terluar; yang pertama merasa sakit bila kau terluka.

133. Kita hanya bisa merindu saat ini; cinta yang takkan mati walau tertinggal perih.

134. Mencintamu; menghirup semangkuk sup panas di musim yang dingin, menghangatkan kalbuku.

135. Ku cecap rindu yang menguar di angkasa, mengaburkan gemawan mega. Kugamit jemari tanganmu, mengikuti arah cahaya yang kita sebut itu; cinta.

136. Kita memecah malam, dalam rindu yang membuta. Dengan bintang sebagai atapnya, dan cinta sebagai alasnya.

137. Jika sesuatu itu mengganjal hatimu; kerinduan. Bersabarlah, aku kan memelukmu dengan selimut malamku, menjaga mimpimu.

138. Ajarkan aku cara mencinta; memadu kasih dengan ketulusan hati, merindu tanpa keraguan.

139. Cinta; kamu yang mengajarkan aku hidup, selalu memberi dan tak kenal peluh kesah bila meluka.

140. Cinta; adalah kamu yang mengajarkanku cara berkasih, tak letih menyuapiku bubur di kala sang surya timbul-tenggelam.

141. Cinta; kau yang selalu terjaga, melihat dan mengawasiku dari tempat tidur. Memapahku bila ku terjatuh.

142. Cinta; penghambaan, yang kata-katanya tak terbantahkan. Menjadikan dirimu budak dengan sukarela. Indah, tapi menyakitkan.

143. Cinta; air hujan yang membasahi dahi, menghapus amarah di hati. Membuatmu tenang, tanpa pamrih.

144. Cinta; kamu, aku, menjadi satu. Tanpa sehelai kain menutupi.

145. Cinta; kematian terindah, dan mereinkarnasi menjadi suatu bentuk yang abadi.

146. Cinta; paradigma kematian yang begitu indah, asalkan selalu bersamamu.

147. Indahmu; mengaburkan keindahan bintang gemintang, rembulan pun tertunduk malu. Siapakah gerangan raja di hatimu?

148. Dan aku mencintaimu bukan karena puisi, sajak, atau kata-kata indah yang kau lontarkan. Aku memahami kerapuhanmu; cinta.

149. Aku; orang yang pertama merasa luka bila kau terjatuh, dan yang pertama merasa bahagia bila kau menemukan cinta.

150. Aku menyeruak tentang cinta; roman yang tanpa batas, gairahnya membuatmu remuk redam.

151. Bahwa cinta itu saling melengkapi; rembulan yang memberi cahayanya pada bintang, dan kilaunya selalu memberi senyuman.

152. Sampul coklat yang kauberi padaku; sebuah cinta yang meluka dalam dera berdebu. Kubasuh lusuhnya hingga ia menjadi putih kembali.

153. Putih itu warnamu, merah adalah aku. Dimana kita berpadu menimbulkan warna baru; jingga.

154. Setia itu; ketika aku kecup bibirmu mesra di setiap bangun dan tidurku menatap wajah yang sama.

155. Untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta kepada orang yang sama; kamu, guru rindu dan luka.

156. Kata-kata mesramu seperti nada di nadiku, yang terus mengalir. Gairah yang takkan pernah padam, inspirasi yang tak pernah mati.

157. indah itu; ketika aku menyimakmu berbicara tanpa koma dihadapanku, bercerita tentang segala hal yang telah kau lewati.

158. Yang kusuka dari kebencian adalah disana aku yang selalu mengenangmu, aku lupa bagaimana caranya melupa.

159. Kelak, jika kau terbangun dari mimpi indah tentangku. Aku disisimu, masih memelukmu ketika kau membuka mata.

160. Walau dunia tak seindah panorama surga, aku menjagamu. Di bangun dan tidurmu, di suka dan dukamu.

161. Kau jantung hati, denyut nada di nadiku. Bersemayam di pagiku, menjelma di kala senja; sebagai kekasih.

162. Biarkan aku menjadi pembantumu; yang menjaga keindahanmu, merawat dirimu dikala terluka hati, memelukmu di kala sepi melanda.

163. Engkau; mutiara hitam berkilauan yang tenggelam di samudera terkelam. Bertahan di dunia kejam walau asa remuk redam.

163. Adalah aku/pencecap rindu/penikmat malam/pengagum senja; dirimu/yg kehadirannya aku tunggu/untuk setia menemani akhirku.

164. Bukanlah suatu sesat bila merindu pada kasih yang tak merdu. Akulah iblis dari tuhanmu, pencinta penjagaku; kamu, malaikatku.

165.Semestinya Tuhan menciptakan labirin kelam untukku, yang terkunci mati. Karena jarak dan waktu, tak dapat memisahkan sekedar rindu.

166. Bulir_bulir rindu yang berkumpul dalam segelas teh ini mengingatkan aku di musim semi bersamamu; merindu.

167. Kau meneduhkan aku dengan cinta; sebuah istana yang penuh damai, dan di setiap sudut temboknya berbahasa kasih.

168. Denganmu semua air mataku mengalir deras hingga di tetes terakhir lahirlah suatu kebahagiaan.

169. Cintamu; mengajarkanku cara menitikkan air mata, dimana air mata itu akan memulihkan luka-luka.

170. itu adalah hari dimana aku mendusta, akan cintaku sendiri. Mencoba melupakan yang tak pernah mati di hatiku; kamu.

171. Kau mencoba berlari dari hatiku, seakan kau lupa bahwa aku masih bernyawa disini; mencintamu hingga akhirku.

172. Kau katakan cinta, aku tidak. Aku katakan cinta, kau tidak. Begitulah cara kita mengeja rindu, agar jenuh pun bosan menghantui.

173. Dan aku berlari, bukan menjauh; aku yang menujumu, membawa semangkuk sup berisi kuah rindu yang tak tertumpah sedikitpun.

174. Cukup sekali kau mengatakannya; tentang rindu yang menggebu-gebu menderu akan aku, dan aku pun begitu.

175. Biar, biiarkan sayapmu patah mencerminkan; betapa manusia dirimu. Begitupun aku, dan cara Mencintaku.

176. Selalu, namamu benderang di hatiku, rindumu menguatkanku, cintamu menyadarkanku akan kasih; nyala yang tak pernah padam.

177. Yang kurasa cinta; selalu meninggikanmu dan memapahmu bila kelak kau terjatuh.

178. Bila memang benar kau dari masa laluku, berarti kau lebih paham akan lukaku. Dan sekarang, sudikah kau menjadi masa depanku?

179. Dan engkaulah terang yang paling benderang, kala kelam diam-diam kuselam dari yang terdalam di hatiku.

180. Hujan hanyalah penghantar rindu; membuktikan keberadaan cinta dihatimu, untukku.

181. Mati itu bukan cinta, Cinta; kematian dari segala lirih. Membuatmu tenang kala merintih.

182. Di malam dimana kita memadu kasih, sampai akhir aku nanti aku tetap merindukanmu.

183. Biarkanlah bantal itu basah air mata, usah kau hirau. Kita hanya perlu berpelukan diantara guling, saling berhadapan.

184. aku menjaga di tidurmu. Melelapkan mimpi indahmu tentangku. Dan Kita bersama selamanya.

185. Aku menyakitimu jika aku merindukanmu, aku mencintaimu, saat kau menjadi akhirku.

186. Bahwa luka itu indah, sayang. seperti alasan aku bertemu denganmu hanya untuk membalutnya.

187. Bahwa kematian itu indah, sayang. Seperti jalan menuju keabadian cinta dan tak seorang pun dapat menggugah rasanya.

188. Sejolinya; saat kita saling menghadap melingkarkan cincin di jemari, dan menjadi sejati.

189. Darah dan tulang belulang, adalah cinta dalam perjuangannya. Mengaliri deru deru rindu, yang berdegup-degup di hati.

190. Guntur; rindu yang menderu-deru bergemang riang di telingamu memanggil namaku.

191. Cintaku yang terurai; merelakan kehilanganmu, mengikhlaskan mencintaimu.

192. 1000 puisimu kubaca di tiap hurufnya, kunikmati perasaan yang tersurat. Kelak aku mencintaimu secara tersirat.

193. Dan aku takkan berpaling dari dusta yang tak mencintaimu. Karena kau sudah tahu, bahwa aku selalu padamu.

194. Saat cinta, saat kita berkasih; meluapkan rindu yang kian berisik.

195. Di kisar senja aku menari, mencecap rindu dalam sedepa kekasih. Dan bintang kubernyanyi, pada malam kumelirih. Tuk menanti “selamat pagi”.

196. Rindu; membuat secangkir teh untuk orang yang kukasihi, penuh cinta penuh luka dalam tiap serupannya.

197. Kau adalah 1000 wanitaku, yang tak habis rasa walau aku jemu.

198. Kau bersemayam dalam kalbu, yang menanti setumat pagi. Kau mutiara tersembunyi, kan kudapati melalui hati.

199. Usah risau pisau yang parau; aku di rantau sengau yang lampau. Usah gundah panorama indah; aku pejalan noda kian hari gulanah.

200. Aku tahu cinta itu tak lesap; setelah melihatmu pergi meninggalkanku dengan air mata deru.