Kami seperti bangkai di ruangan ini, kamarku. Selalu berempat dalam 2 tahun ini, tak jelas. Setiap hari hanya berkelakar, teleponan dengan pacar kami masing-masing, atau menulis dan bermain musik.

Tak tahu mengapa, aku selalu tidak bisa berbuat banyak. Tidak bisa wujudkan mimpi, walaupun pemikiranku matang dan banyak ide cemerlang. Tapi menjadi labil, seperti sebuah boneka yang dibuat Gepetto., hanya bisa menurut pada orang tua.

Lalu munculah sebuah pemikiran yang akan merubah segala. Pemikiran jahat yang tak direstui Tuhanku. Aku acuhkan saja, aku membulatkan ini. Sebilah parang yang selalu memotivasiku. Ku potong seisi orang dirumah menjadi 80 bagian dan kujual di pasar.

Aku bisa berbuat banyak setelah itu. Tersenyum indah selamanya, dan mati.