Seketika seorang ibu memandang renyuh anaknya yang selalu giat berkebun di ladang peninggalan kakek moyang dari suaminya. Melihat anaknya yang penuh keringat jagung bercucuran setiap kali ia mengais hasil panen di ladang untuk dijualnya. “Amin, itu namanya.” Amin hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya wafat 5 tahun yang lalu karena terlalu bekeras hati untuk menghidupi keluarganya. Ibunya pun sudah tua renta dan hidupnya penuh kecemasan akan masa depan anaknya yang belum nikah hingga di umurnya 33 tepat bulan depan tgl 20 Mei.

“Amin… Amin.. Kemari nak!” ujar ibu saat memanggilku lirih dari dalam rumah melalui jendela dapur yang mengarah ke ladang di pekarangan rumah kami. “Iya ibu, sebentar lagi selesai”. Ujarku. Ibu masih menungguku. Ternyata tanpa sadar aku sudah bekerja seharian, lelah menyelimuti dan sudah tiba saatnya makan malam disaat ibu memanggilku tadi. Bergegas aku menghampiri ibu yang sudah duduk tersenyum manis menanti anaknya untuk makan malam bersama. Seperti biasa, ibu selalu memasak makanan kesukaanku; sambal hati dan beberapa sayur mayur serta daging asap.

Obrolan kecil di meja makan pun biasa kami lakukan sambil makan malam terasa sekali kehangatan kasih sayang keluarga. Aku tersentak diam ketika ibu menanyakan sesuatu hal yang membuatku tak bisa menjawab. “Kapan kau akan menikah nak?!”. Aku menunduk dan hanya bisa tersenyum kepada ibu. Lalu ibu masih berucap untuk menyemangatiku, “mungkin dengan kau sudah menikah, kau akan lebih giat bekerja dan ada teman ketika ibu telah tiada”. Semakin terdiam aku, semakin terpojok dan merasa bersalah tapi aku memang takut untuk kehilangan ibu, aku belum bisa. Walau umurku sudah memadai untuk sebuah pernikahan, tapi aku sulit untuk melepas ibu, cukuplah ayahku yang sudah tiada, pikirku. Aku takut hilang rasa peduliku kepada ibu bila aku menikah nanti, gumamku dalam hati. “Mungkin nanti bu, ada waktunya”. Untuk yang kesekian kali aku menjawab pertanyaan ibu dengan kata-kata yang sama di setiap pertanyaan ibu yang sama pula.

Ibu mencium keningku setelah selesai makan malam kami, dan berucap “selamat tidur”. Aku tidur dengan membawa gelisah memikirkan nasib ibu yang sudah tua. Aku tak tega kehilangannya, gumamku berkecamuk di pemikiranku yang berkelut.

Keesokan harinya di pagi hari ketika aku bangun tidur, aku mendengar ibu batuk-batuk. Aku tahu memang dia sering sakit-sakitan. Tapi kali ini beda, batuknya terdengar berat, becek. Lalu ku hampiri dia ke kamarnya, kutemukan bercak darah di dinding samping tempat tidurnya. Bercak darah yang menyebar ke dinding karena sudah tak kuat tangan menahan deru batuknya ibu.

Ibu lemas terlunglai sembari duduk di kasur, dan batuknya tetap berlanjut. Dengan gusar, aku menghubungi rumah sakit dan cepat-cepat membawa ibu berobat.

Alhasil, dokter bilang bahwa ibu kena pecah pembuluh darah di paru-paru. Sebaiknya banyak beristirahat, ujar dokter. dan kurangin untuk makan-makanan yang berminyak dan daging, karena pencernaan ibu sudah hampir rusak. Terutama di bagian lambung dan ususnya, pesan dokter kepadaku ketika aku mengurus regristrasi pengobatan ibu.

Sepulangnya aku mengistirahatkan ibu dirumah, dia rebahan di kasur dan aku menyelimutinya sambil berkata: “ibu, tenangkan pikiranmu, ibu baik-baik saja kog bukan sakit yang parah”. Aku mencoba menenangkan ibu agar dia dapat beristirahat. Di siang hari itu juga aku meladang, dan mengumpulkan hasil panennya di gabung sama hasil kemarin lalu aku menjualnya ke pasar tempat biasa aku menjualnya. Walaupun pasar gelap, yang penting aku dapat menafkahi ibuku dan aku.

Tibalah malam hari selepas jam kerjaku. Aku kembali pulang dan bergegas melihat kondisi ibu. Dia masih terbaring di kamarnya. Tertidur pulas. Aku membangunkannya sejenak perlahan, mencoba merayunya agar mau meminum obat dari dokter. Ibu memang sulit untuk minum obat sedari dulu. Tapi aku paham, aku hancurkan obatnya hingga menjadi bubuk, lalu ku campur air dan menyuapi ibu dengan membawa secangkir air putih.

“Ibu beristirahatlah lagi, kondisi ibu kan belum pulih, ibu harus sehat”, ujarku. “Tidak nak, tidak.. Bukan ibu yang ibu pikirkan, tapi kamu. Kamu mesti bisa merelakan ibu suatu saat, kuatkan tekadmu dan teruslah hidup untuk ibu”. Aku terharu mendengar ucap ibu dan menangis tersedak. “Aku sayang ibu”, sambil meneteskan airmata dan memeluknya.

Lalu ibu mencium keningku sambil memegang kepalaku dengan kedua tangannya dan memandangku sambil berkata: “besok adalah waktu yang tepat, carilah isteri dan relakan ibumu.. Ibu akan baik-baik saja, nak”. Ucap ibu tegas dengan suaranya yang parau.
Aku hanya terdiam mendengarkan perkataan ibu. Aku hanya mengangguk dan kembali ke kamarku setelah aku melihat ibu beristirahat dengan obat dari dokter yang sudah membuat dia kantuk.

Sambil tidur memandang langit-langit kamar aku melamun, usahkan air mataku yang selalu menetes. Aku hanya berharap dalam hati semoga tak ada hari esok. Karena esok tak ada ibu.

Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil sesuatu yang tak aku inginkan sembari menuju ke kamar ibu. Sudah menjadi tradisi, dan ketakutan itu menyelubungi, terjadi. Sudah turun temurun dan menjadi bekal hidup keluarga. Terpaksa ibu menyusul ayah disana, menunggu untuk tertutup tanah. “Ibu, maafkan aku.. Aku sayang ibu”. Parang yang sudah terasah setiap harinya aku bawa berladang seketika menyambut leher ibuku yang sedang tertidur saat itu juga. Aku hanya ingin ini menjadi cepat, tak terasa begitu sakit. Benar, ibu seketika hanya sempat bernafas sejenak ketika darah di lehernya muncrat ke dahiku. Lumur di baju, putih berubah merah seisi ruangan. Sunyi.

“Ibu, selamat bergabung dalam keluarga besar”. Ucapku ketika membawa utuh semua jasad yang sudah terpotong ke arah ladang. Aku menanamnya di samping jasad ayah, tak berjauhan dari jasa kakeknya ibuku. Semua lengkap. Reunian keluarga. Hanya saja sekarang tinggal jantung ayah, dan ibu yang baru saja kutanam. Hanya itu tinggal mata pencaharianku yang belum kujual di pasar gelap. Semua kutanam dalam ladang keluarga. Sudah menjadi tradisi. Semua kujual satu-persatu untuk menghidupi.

Keesokan harinya aku berjalan seperti biasa. Rutinitas, keseharian, pekerjaan, hanya saat ini tanpa ibu.

3 bulan kemudian..

Aku bertemu wanita yang mencintaiku dan aku mencintainya. Namanya Minah, dia mempesona dan baik hati. Tak lama setelah kami saling mencintai, kami pun menikah tanpa saling mengetahui jelas asal-usul diantara kami. Menikah ala kami (hanya berjanji berdua untuk saling melengkapi).

Setahun kemudian…
Kuceritakan semua kepada isteriku mengenai adat keluarga turun temurun dan tentang ladang. Isteriku hanya tersenyum manis seakan sudah tahu kapan waktu yang tepat untuk mengutarakan hal yang aku bicarakan kepada anak lelaki kami. Dan aku hanya tahu 1 hal, adat itu akan menghidupi keluargaku nantinya. Sekaligus menuntunku bertemu ibu,ayah,kakek,nenek, dan sang pencipta. Nyawaku demi keluargaku.