Gulita raksasa menyelimuti, pekat dan kelam. Sunyi. Dikala itu aku menanti kekasih, yang mana aku selalu menjadi musuh dari kebaikan. Selimut neraka jahanam yang mencerca tuhan. Aku mencari, terus mencari, hingga ke dasar kulit manusia sekalipun.

Panggil aku “D” berupa singkatan Devil. Aku bosan!! Hampa dan renta melakoni mandat. Jenuh resah gemuruh seakan badai menghempas sesatku. Aku hanya bisa berjalan, berlari, terbang ke angan makhluk tak berdosa. Mencari celah merusak, bongkar iman. Tapi semua itu tak memuaskan birahiku. Tak ada pasangan hidup, mungkin aku terlalu jelek atau terlalu jahat sebagai IBLIS.

Dia mengutus utusannya menghampiriku, membisikkan kata Api kepadaku. Tuhan berencana menepisku dari tempatnya yang agung. Tuhan cemburu. “M” sebut saja itu untuk utusanNya, angel.

M menatap dalam ke lubuk imanku, seolah aku beriman kepadaNya padahal tidak. Aku laknat, khianat, penuh dusta dan nista. Berlangsung 3 abad M memperhatikanku, dia selalu meliuk-liuk di celah hujan kala senja, meratapi kegiatanku yang aku jadikan pencitraan memang karena aku ingin diperhatikannya. Menunggu saat dia menyapa.

“D, sudah habis waktuku untuk mengawasimu” ujarnya. Sudah waktuku?? Gumamku saat dia berkata itu. Jangan, bertahanlah disana M, masih bergumam dalam hati. “Tak ada guna, kau tetap seperti itu.. Kau memang lain daripada yang lainnya, hanya kau terlalu telanjang dan aku dapat memahami deritamu”.

“M, kumohon jangan pergi.. A..a..aku.. Menyukaimu”. Memang iblis tak pernah basa-basi, tertawa kecil dalam hati atas ucapanku padanya. “Ég elska þig” aku mencoba berbicara dengan bahasanya. Butuh beberapa abad mempelajari bahasa Malaikat.

Mendengar kisah-kasih kita itu tuhan murka, ia mengutus seribu milyar utusan panglimanya khusus untuk memenjarakanku dan menghukum M. Kami menghilang, berlari menjauhi semesta. Antar galaxy kami sembunyi, terpisah demi kasih yang nista. Kami tak peduli, hanya resah akan hadirNya.

Setelah beratus abad kami menghilang, bertemu kembali di semesta nypton. Galaxy yang dulu pernah kami buat berdua khusus tempat pertemuan rahasia. Tuhan memang telah mengawasi nypton sejak dulu, hanya saja saat ini kami memodifikasinya kembali dan butuh waktu cukup lama. Kami bertemu, “nypton, terimakasih” ujarku. “M, malaikatku, terkasih dalam kesunyian yang merindu, aku mencintaimu selalu tak pernah terkikis sedikitpun”. “D, aku juga telah lama merindu, dendam kasih ini akan kulapiaskan sekarang juga”. Kamipun bercinta layaknya manusia hina penuh nafsu birahi. Percintaan kami disaksikan para bintang yang membisu, rembulan tersipu malu, matahari cemburu tak mengadu.

100 abad pun belum cukup memuaskan hasrat kami, percintaan rindu yang telah lama hilang kini bertemu kembali. Sedangkan tuhan masih iri pada kita. 1 milyar panglimanya terseok-seok mencari tempat persembunyian kami, Nypton. Melihat percintaan kami rembulan pun terharu, bintang mempunyai ide gila yang aku suka, matahari pun menyetujui akan hal itu. “Bunuh saja!!” Ujar bintang. Aku tersentak, bingung, resah, bergejolak riang, mendendam. Berpikir keras melawan sang maha. Aku sesat, memang tercipta seperti itu. Pola pikir yang terbentuk memang seperti itu, jangan dicela.
Sejenak ide itu pun di jalankan di abad depan.

1 abad kemudian…

M kembali padaNya.. Tanpa wajah dosa menunduk ke maha pengampun, ia bingar. Gundah gulanah berharap mengkosongkan pikiran agar tak terbaca. Tanpa ragu sang maha memangku dan meminang M kepangkuan seperti biasa anak kesayangannya. Rindu kehilangan juga ia rasakan atas M. Aku melihat dari kejauhan menunggu waktu prajurit yang berjaga terlelap. 10 windu kutunggu dan tibalah waktunya ketika M masih di pangkuan sang maha. Aku melangkah kecil perlahan dengan terbang rendah. “Inilah waktunya” berbicara kecil. Tak pikir panjang langsung kuhujam dia dengan sebilah api yang menjulur dari lidahku yang membara, dapat membunuh 1000 nyawa sekalipun dari radius jutaan mil.

“Aku yakin dia punah, si abadi yang renta”. Sekilat mungkin kuhempaskan pedang binar merahku menyala. M mengerti kode ku sebelumnya, dia menghindar jauh terbang ke arahku. Menjauhi cahaya merah itu agar aman. Setelah merah mengenainya, ternyata tak setitikpun membuatnya bergeser dari tempat duduk nya, maha. Semua hilang begitu saja, merah berubah padam, sirna.

Tak banyak bicara, sang maha menghempasku jatuh tergopoh di bawah dunia terkelam paling dasar. “Sungguh kuat” ujarku. M ketakutan, keringatnya pun membasahi bumi menjadi lautan yang mengamuk melahap daratan yang tandus. Dalam kilatannya, aku punah hilang sekejap. Masih sempat sebelum punah aku menggenggam tangan M, dia mencoba meraihku. Tapi apa daya, dia pun menjadi punah karena kilatanNya menyebar hingga yang tersentuh akan sirna, hilang. Kami berdua hilang ke alam lain, alam kepunahan yang tuhan pun enggan menghampiri. Tuhan bersedih, menangis deru akan hilangnya M. Pangkuan kesayangannya. Dan dia tidak sadar bahwa;
KAMI LEBIH BAHAGIA DI ALAM KEPUNAHAN, KAMI LEBIH ABADI DARI SANG MAHA ABADI. KEABADIAN CINTA.