Berawal dari mimpi, kisah kita dimulai. Ketika kau lewat, aku sedang menyelimut malam. Berharap tak ada sinar menerpaku. Ku takut, resah, gulana. Tapi kau menenangkanku, mencoba membuatku percaya akan sinar itu. Cinta, itu yang kau ajarkan padaku. Butuh 3 abad, 3 tahun, 3 bulan, 3 hari, 3 jam, 3 menit, dan 3 detik untukku memahami arti itu. Tapi kau tak pernah gersang menanam rasa indah itu di kebun hatiku. Selalu berusaha, itu yang kusuka. Aku mendambamu kasih.

Setelah aku mengenal cinta, betapa indahnya dunia. Dirubungi pelangi yang berkicauan warna-warni. Senandung sunyi menjadi notasi nada di nadi kita. Saling mendekap dalam genggaman rindu yang tak berkesudahan. Terlampiaskan oleh asmara yang tak pernah padam.

Jiwaku terselamatkan dari kegelapan. Tersadari ketika kau menanam rasa indah itu di benakku. Kau menculik hatiku, ragaku, segalaku untuk bersamamu dan aku mensyukuri itu. Terkadang kita pun saling menculik ketika malam tiba, dimana kita saling menghangatkan kisah kasih kita.

Tuhan berang akan kita, mencari rindu yang menghilang dari atas permukaan. Ia turun patroli mencari celah kita bersembunyi. Kita saling menculik, tak takut dosa, hina, ataupun cerca dan siksa. Cinta menguatkan kita dari hal itu. Kita berbeda, kita yakin, kita bisa, kita cinta. Giliran tuhan pun yang menculikmu, mengembalikanmu ke pos yang telah tersedia memang untukmu. Aku berang, berencana balas dendam akan tuhan, menculikmu kembali ke pangkuanku. Memadu rindu yang lama telah terpendam.
Hanya kau bidadari yang aku nanti. Walaupun percintaan malaikat-iblis tak direstui, biarkan aku ajari Tuhan tentang mencinta. Hiraukan dosa dan nista. Perjalanan kita abadi, lebih dari tuhan-tuhan sebelumnya dan lainnya.