201. Di sudut ruang itu, aku memeluk kesendirianmu. Membasuh pilu dan peluh dari dahimu.

202. Cinta itu, luka abadi di sela waktu yang indah. Kubentangkan itu cinta, agar kita bisa saling merindu dan meluka.

203. Kita bagai pena dan buku; menulis cerita kita, menggambarkan cinta.

204. Kita, tulisan di dalam sebuah buku suci, yang terbaca dengan menggunakan kacamata berbingkai emas; sebuah pernikahan.

205. Kau; selembar kertas putih yang kutuliskan menggunakan tinta emas, dengan pulpen hitam kita karamkan luka dan dendam.

206. Aku menggambarmu dalam sebuah bentuk; yaitu diriku.

207. Aku sedang melukis sebuah tangan, di kertas berwarna abu. Agar dapat kugenggam dan kita bergandengan.

208. Aku merasakan, tapi tak melihatnya datang; cinta.

209. Hanya dengan menatap matamu saja aku tahu itu perih, merindu, dan kasih.

210. Ingatkah engkau sewaktu kita saling meluka? Demi keutuhan yang kita sebut itu; cinta.

211. Luka itu cinta, yang mesti kita raih walau bibirnya pucat.

212. Hujan; menceritakan betapa sendunya aku menantimu, cintaku.

213. Jika aku dapat tebunuh oleh mimpi; aku yang akan mati bila tak dapat memimpikanmu lagi di setiap malamku.

214. Cinta seperti hujan; yang tak terbendung laju derasnya hati bila sedang dilanda asmara.

215. Seperti detak denting pianomu; jantungku yang terus berdegup hidup dari notasi cintamu.

216. Aku bercinta berkhayal tentangmu, memainkan rotasi bumi hanya untuk waktu yang terulang kembali.

217. Aku takkan pernah meninggalkanmu, walau rentan usia terlewati, dan cinta itu mulai pudar hari.

218. Aku sudah kapok meninggalkanmu, karena itu bayanganku selalu menujumu.

219. Seperti lantang suaramu; kau tegas saat mencium bibirku seakan berkata, “aku terlalu mencintamu”.

220. Aku terlalu mencintamu; yang tak rela bila ditinggal mati olehmu, terlebih ditinggal hidup.

221. Perjalanan cintaku berlabuh padamu, angan hatiku selalu bersamamu, manis bibirku hanya ingin menciummu, rasa rinduku yang lahir dari lukamu.

222. Aku pasti menemukanmu; sekalipun kau sembunyi di dasar teluk, di balik awan, atau di dalam luka.

223. Segala sesuatu memiliki keindahan, tapi tidak semua orang melihatnya; senyummu.

224. Aku akan mencintaimu dalam hidup, sampai tidak tumbuh sehelaipun rambut di kepalamu. Aku akan mencintaimu dalam mati, sampai tuhan meleburkan roh kita.

225. Aku akan membunuhmu bila kau mati, aku akan terluka bila kau sakit, aku akan mencinta bila kau merindu.

226. Akulah cinta sejati, yang selalu mengerti akan itu luka perih. Akulah gambar bergerak, yang selalu menujumu dalam keindahan.

227. Kamu seperti tropis, yang selalu meneduhkanku. Cintamu seperti laut, yang lebih dari tempat aku berpijak.

228. Aku seperti rabun, mencarimu dalam kerinduanku yang terdalam. Aku mencoba mengerti, demi mendapatkan sejati hatimu.

229. Akulah tangan-tanganmu, yang merogoh ketika kau ingin dicumbu, yang memapah air matamu saat kau terhimpit oleh pintu lirih.

230. Aku mencintaimu lirih, tertatih demi sebongkah kasih. Aku merindukanmu senja, bersahaja, tak pernah bermuram durja

231. Tak perlu aku berkata-kata untuk bukti cinta; cukup dengan melumat bibir sembari memelukku, kau akan tahu jawabannya.

232. Karena rasa tidak pernah dusta; kecupan bibir yang dapat membedakan mana kasih, mana palsu.

233. Tanpamu; seperti makan daging berserat tanpa segelas air. Luka yang tak terbasuh kasih, dan mati.

234. Adalah angka yang semakin lama semakin besar kapasitasnya; seperti caraku mencintaimu.

235. Sesalku; selalu bila tak sengaja membuatmu menangis. Sungguh matiku, air mata itu adalah sikap cermin cinta kita.

236. Aku menantimu, kembalinya kau padaku. Disana tertumpah air mata rindu, tersedu. Rintihan di tiap bulir kasih yang candu.

237. Coba genggam tanganku, lihatlah seisi dunia bersamaku. Coba kecup bibirku, rasakan indahnya cinta denganku.

238. Otakku berantakkan, bila harus membeban rindu. Jiwaku berhamburan, yang tak mau lagi terpisah dari cintamu.

239. Aku menari diantara kaki yang tertatih-tatih. Disana, diatas panggung mewah yang hampa. Aku berlari dengan temanku, lirih. Dimana aku bernyanyi memanggil sebuah kasih.

240. Aku menari diantara tatih, diatas panggung mewah yang hampa. Aku berlari dengan lirih, dimana aku bernyanyi untuk sebuah kasih.

241. Cintaku, hanya untukmu persembahan dariku. Cinta terakhirku, hanya padamu di dalam kehidupanku.

242. Dan aku, aku akan menjadi bodoh untukmu. Dan kamu, kamu akan menjadi cerita indah di kisah akhirku.

243. Bagaimana aku bisa pergi dari pintu hatimu itu?. Sedangkan kuncinya ada padamu, sayang.

244. Aku takkan pernah meninggalkan ruangan ini; hati kita yang selalu mencinta.

245. Mencintaimu dalam hidupku; seperti meminum air dari telaga suci di tengah gurun pasir yang tandus.

246. Karena kau si cantik, yang membuat saya tergila-gila. Kau tidak pernah berpikir tentang hal itu, dan tidak dilakukan tanpa itu.

247. Aku seperti puzzle; yang kamu susun rapi kembali, dari bekas kehidupan di masa laluku yang berantakan.

248. Jadi, rasakanlah kecupan hangat dariku ini; agar kau tahu bahwa ini rasa, ini cinta, bukan sekedarnya.

249. Sampai tuhan mencabut nyawaku, maka aku masih milikmu utuh. Sampai tuhan jengah padaku, maka aku akan memilikimu di keabadianku.

250. Terkadang rembulan pun melonglong menggantikan serigala malam, dan disini aku setia mendengar semua keluh kesahmu.