301. Masihkah kau mencintaiku disaat aku rapuh, menuntunku di kala jengah?. Aku tahu kau akan, karena kau cinta mencintaku.

302. Kita melukis rembulan di atas air, mengukir nama di muka getarannya. Kita perlahan memekari, menaklukan cinta yang mustahil.

303. Perlahan sangat lelah kucari arti, hingga suatu akhir memapahku dalam ketiadaan. Itu cinta, yang mencintaku; kamu.

304. Aku terpejam, melihat segala luka dengan khidmat. Aku terdiam, ketika senja menciumku lalu menghilang cepat.

305. Disaat aku terjatuh, maukah kau membangunkan aku, demi hati?. Dan aku, takkan lelah untuk mendekapmu lagi, kembali padamu.

306. Kau adalah handuk pengeringku, disaat tubuhku basah oleh airmata. Kau adalah senjaku, terlukis dalam rembulan merah jambu.

307.Cinta adalah perasaan yang dimiliki oleh orang ke orang lain. Tapi apa yang kurasakan padamu, lebih dari sekedar indah; luka dan airmata.

308. Aku menggambar kisah; kita berkasih dalam ruang tunggu airmata, rindu menjadi saksi, hati adalah tersangka atas luka yang maha.

309. Aku mencintamu di tetesan airmata. Bulir-bulir rindu yg terisak, tak menggoyahkan asa. Demi sebuah hati kembali kerumah.

310. Aku tertidur lelap, mendekap bantal yang pengap. Aku berkerumun asap, mengaburkan rindu yang endap.

311. Aku orang malam yang menyerupai gelap. Berhati loyak yang sudah kurap. Dan kenangan tak menjejak, bila waktu dapat kau dekap.

312. Persimbahan hati berlabuh padamu; asa yang menghamburkan luka. Bila nanti aku padamu, kusuguhkan secangkir teh berisikan cinta.

313. Sembari menunggu, aku menuliskan rindu. Dalam terang, gelap, teduh, dan pedih kubertanya; “kapankah kau disini, menyambut hati dengan segera?”.

314. Aku membuatmu rumah, tempat kita menyembuhkan luka. Aku merogoh cinta, pun di nadi yang telah darah.

315. Aku seperti kelip bintang, yang terangnya oleh karenamu; rembulan senja merah jambuku.

316. Selamat pagi rusukku yang hilang; cinta mencintaku, semoga tak sirna hangatnya, pun ditelan duka.

317. Telah ku dapat yang paling syarat, dan melompat dari keyakinan sesat. Yang berat ku cuat, yang lezat ku sikat.

318. Aku sedang belajar menyajakkan aku, setelah itu baru aku bisa menyajakkan kamu, cintaku.

319. Seakan aku berlari mengejar cinta ke hatimu, tapi aku menemukan sesuatu yang lebih; rindu yang membatu.

320. Aku selalu mencintai dan menyayangimu; sekalipun kau toreh luka lama, menangis dalam bengis, atau jengah akan gundah.

321. Seakan aku berjalan ke gurun mencari tanaman berduri, tapi ku menemukan yang lebih; telaga airmu.

322. Aku selalu mencintaimu; kamu, yang merupa senja, menyayang siang, sedalam malam.

323. Telah ku tinggal yang telah tanggal, tak tersesal pada asal muasal. Rindu ku kusal, luka ku tinggal, pun sial.

324. Pada malam kucecap rindu yang tak bertuan, pun malaikat hadir menyapaku, kala pagi membenturkan dirinya; demi sebuah cinta.

325. Cinta datang tanpa ada sebab musababnya. Dan aku datang untuk memberi luka, agar cinta itu tetap ada.

326. Engkau binar cahya dari sayap kupu, terbang mengitari taman impian. Tapi ada yang lebih dari sekedar sayapmu; mata menawan.

327. Ada cara untuk mencintai, ada saat untuk dicintai. Dua dalam satu, satu dari dua; kosong.

328. Aku dan waktu, berjalan dengan padu. Kita bersama pilu, meratakan kembali kisah sendu.

329. Acap kali mencoba untuk melukis gurat, dari wajahmu. Banyak tinta yang lengah karena kesalahan itu; tak terjamah rindu.

330. Aku tatap wajah tak berdosa itu; kusebut cinta. Yang membirukan wajahku, membutakan hati, kala senja.

331. Engkau bertanya tentang rindu, sedang hati genap meluka. Nyanyikan sedikit tentang sendu, agar aku tak henti mencinta.

332. Dan kumbang pupus karena bunga, pun beracun tak henti kuhisap sarinya. Karena racun itu, memberi aku sebuah nyawa; cinta.

333. Rindu dan sunyi seperti saudara kembar. Bila di antara mereka ada yang sakit, satunya akan berduka dan terluka.

334. Aku selalu menantikan, hari dimana waktu menyerah, dan cinta yang berkuasa. Disitu ada kau, dan aku.

335. Kitalah cinta, engkau kuning, aku merah; menyatu sebagai jingga, kala senja.

336. Ku hanya bisa melihat, butir-butir airmata berjatuhan berbicara tentang rindu; di kala senyuman itu pergi, dan cinta menjauh.

337. Berbekal cinta, aku tidak akan kesasar diantara semak-semak luka.

338. Jika aku mati, akan terlahir kembali untuk bertemu denganmu sekali lagi. Jika aku tiba, kumohon agar tetap ada untuk mencinta.

339. Pagi, aku terlahir kembali, tiap-tiap sel menyusun pergerakannya sendiri. Sama seperti cinta setiap hari, selalu memperbaharui.

340. Cinta kita bergelora, seperti kobar api yang menyala. Rindu kita mencandu, pada waktu yang membisu.

341. Jadikan aku dalam ceritamu, yang tersenyum setiap kau membacanya. Kuingin hidup dalam hatimu, sebagai pilar penyangga cinta.

342. Kita bertemu awal pagi, menari di atas dedaunan. Kita bercumbu kala malam, dan hujan meratapi kedinginan.

343. Bila nanti aku pergi, sayang, yakinlah bahwa suatu saat aku akan mudik ke hatimu yang rumah.

344. Getar rasa dalam dada, getir kau buat oleh luka. Tak ada yang sempurna, melainkan cinta yang bersahaja.

345. Tubuh akan selalu lemah, tulang akan menjadi
rapuh. Tapi tidak untuk cinta, keabadiannya hadir dari setiap luka-luka.

346. Dengan pagi yang terbit terang, dengan rindu yang temaram kala malam. Aku berpikir tanpa akhir, meluka memahami cinta.

347. Aku tenggelam dalam temaram malam kelam. Mengendap-endap dari asap yang pengap. Mencari celah memilah cinta yang surah.

348. Kala cinta melirih pada rintih yang gigih menari. Yakinkanlah hatimu untuk melabuh kepada yang kau rindu sungguh.

349. Cinta itu seperti bodoh. Ingatkah kau ketika menumpahkan kopi di bajuku & aku bilang: tak apa. Di sanalah kita berteman cinta.

350. Cinta semakin lama semakin membesar, sayang. Yang menjadi pertanyaan; dapatkah kita membendungnya?

351. Jika kau rindu padaku, bukalah bajuku. Kau akan melihat bekas goresan-goresan garis waktu di dadaku yang lama menantimu.

352. Dalam temaram malam aku menyaru sebagai waktu, berteman dengan sunyi, dan berbincang pada rindu yang tak pernah usang.

353. Ada yang merasuk ke dalam dadaku; mungkin itu cinta, mungkin juga luka. Kumohon kau untuk menterjemahkannya.

354. Cintaku sederhana; hanya ingin membuatmu tersenyum bila meluka.

355. Kau boleh membawa hatiku, sekalipun meninggalkanku; asalkan itu membahagiakanmu.

356. Kematian yang indah itu; bila cinta yang membunuhku.

357. Aku adalah laut, dan kau langitnya. Dan kita berciuman di kala senja.

358. Kecuplah bibirku, rasakan lidahku yang kering akibat merindumu.

359. Sesaplah cintaku, cumbui bibirku. Maka kau akan merinduku lewat lidah dan hatimu.

360. Cintamu adalah rintikkan hujan, yang membasahiku dalam sebuah pelukan.

361. Mungkin dengan membaca sajakku, kau akan merindu, berang pada cinta yang tak kunjung temu, dan menikahiku.

362. Jika cinta itu dendam; maka aku akan membalas semua kasih yang telah engkau beri.

363. Dan dengarlah kasih; nada di nadiku memanggil harapan. Merindu di atas janji, menunggu sebuah kecupan pasti.

364. Kubiarkan luka menanti, melebarkan koyaknya di nadi. Hingga saat nanti, kembali semula dalam satu kecupan.

365. Tapi aku tak ingin hanya berteman dengan kata. Aku mau kamu, bibirmu, rindumu, dan peluhmu. Merebahlah padaku.

366. Aku baru saja terjatuh, dari ketinggian yang paling tinggi. Tapi aku tak menyesal; cintamu memapahku dibawah menanti.

367. Sekarang aku tahu, mengapa bantalku basah; menangis, telah lama tak memeluk dan menciummu.

368. Aku selalu merindukan; dimana hatiku sepi dan hanya ciumanmu yang membuatnya ramai.

369. Ada keheningan disini, menemaniku. Ketika kau tidak ada, dan hanya mendung yang setia.

370. Aku menjelma awan ketika kau bersedih, terumpahlah segala perih. Aku menjadi bunga mengharumkanmu, yang layu jika kau pergi.

371. Dan semua yang tersurat, sayang. Hanya untukmu. Dan semua yang tersirat, sayang. Hanya bibirmu.

372. Aku bosan denganmu, rindu.
Selalu kau buat menunggu.
Gejolak nada nadiku merdu.
Aku ingin memilikimu, satu.

373. Pagi menyambut hati, ceria.
Kubukakan pintu itu, beranda.
Secangkir teh temani menantinya.
Berharap kedatangan kamu, bahagia.

374. Tak ada rindu tak ada jauh, tak ada hati yang tak berduka.
Tepian pantai kumenunggu labuh, tak jua datang kau yang aku cinta.

375. Dalam hatiku, ingatkan aku.
Dimana aku berdoa, untukmu.
Disini aku merindu, jauhmu.
Disana kau setia, menantiku.

376. Jika kita terpisah, sayang.
Sebutlah dengan nama, Cinta.
Maka Tuhan mempertemukan kita.
Dalam Airmata nan linang.

377. Aku mau, mendekapmu mesra.
Membawa asa kehadapanmu.
menunjukkan darah kotor aku.
Kamu mau aku cinta?

378. Aku mau, menciummu lembut.
Bicara dengan tanpa suara.
Menjamah dengan segala luka.
Maukah kau datang menyambut?

379. Yakinlah, aku lebih banyak mendengar daripada kau yang merasa. Karena aku, hati kecilmu.

380. Jika kau mencintaiku, cintailah dengan segenap hatimu. Dan aku, beserta usus-ususku; untukmu.

381. Kenapa ada kata ‘indah’ dan ‘cantik’ di dunia?. Karena ada Cinta disana.

382. Percayalah, aku selalu melihat, apa-apa yang terjadi. Baik kau genggam erat, maupun yang nostalgi.

383. Percayalah, aku lebih banyak melihat daripada yang kaulihat. Karena aku, nuranimu.

384. Aku mencintaimu lebih; kembalinya kau simpan saja untuk anak-anak kita nanti.

385. Dan kau adalah sebagian luka, yang pernah aku dera. Tapi kau membuatku lebih; meramaikan hatiku.

386. Kata orang, peluru itu lugu. Bila kau mati, sayang. Itu berarti aku cemburu.

387. Kita main petak umpet; aku yang jaga. Saat aku membuka mata, kuingin kau mendekapku mesra. kau menang.

388. Cinta itu; kata dengan sudut yang melukai.

389. Aku sedang duduk di warung, dan menikmati secangkir kopi. Itu yang kusuka; kesederhanaan dalam mengingatmu.

390. Kau bukan dokter, bukan pula perawat. Tapi, bisakah kau memberitahuku bagaimana kau menaruh sesuatu di dekat usus besarku??.

391. Sajak itu; cinta. Bila kau yang mengucapkan syairnya.

392. Kita seperti pengantin lama di ruangan yang baru, sayang; matipun kita bahagia.

393. Izinkan aku merambah bumi memupuk rasa, mencari berkah ruas-ruas kata. Tercipta oleh hamba, dari sang guru rasa; cinta.

394. Aku mau, jadi sayap kupumu, membuatmu indah dihamparan seribu bunga. Membawamu terbang, merangkulmu ketika kau lelah.

395. Kamu; pengabulan dari segala doa yang kutumpahkan.

396. Aku merasa rumah ketika sedepa darimu, Aku merasa utuh ketika aku dipelukanmu.

397. Aku mengenal cinta, saat aku pertama kali memandangmu.

398. Aku senang menjadi langit yang memancarkan auroramu. Dan pelangi yang muncul ketika kau bersedih.

399. lupakanlah namaku, ingatlah rinduku.

400. Bahasamu kalbu cintaku, merona merah jambu di dadaku. Rasamu tak jemu sayangku, walau bertubi-tubi luka di dihatimu.