401. Entah mengapa aku merindukanmu, setelah pertemuan itu. Dimana aku melihatmu dari kejauhan; dari airmataku.

402. Cintaku; buih air dalam akuarium, tempatmu bermain dan bernafas.

403. Mataku patah ketika melihatmu, pinggulmu, parasmu, seakan arahan menuju dosa terindah.

404. Tuhan maha melihat; sekalipun aku menyembunyikan rindu yang kusam dalam temaram malam nan kelam untukmu.

405. Sepi mengendap dalam genangan cinta, merajut rasa menantimu. Hingga waktu itu tiba, dimana aku menuai rindu; di penantianku.

406. Aku tenggelam rona kelabu, merintih dalam lara menggebu. Mencari sukma yang kehilangan; kamu

407. Hingga saat dimana aku tahu akhirku, aku ingin melihatmu lebih dalam, sayang.

408. Aku berlayar mencarimu dalam kegelapan. Berharap kutemukan setitik cahya; matamu, sorot tajam memberikan harapan.

409. Sayang, kau angkat aku dari lebih jatuh. Memapah cinta dari penuh luka.

410. Aku berbicara tentang rindu
Tentang rasa yang berduka
Aku berkata pada senja
Menunggu kembali pelipur lara

411. Kurentangkan sebuah jasad puisiku
Yang lama menunggu kehadiranmu.
Kubiarkan dia termangu disitu;
aku telah memilikimu utuh

412. Kulabuhkan perahuku mereda nestapa
Mencari hati penyembuh luka
Dan engkaulah tambatan hati,
ketika aku lelah berlari.

413. Selamat pagi relung keindahanku, semoga hatimu utuh untukku. Disini aku merindu kasihmu, disana kau setia menantiku.

414. Kirimilah aku rindumu, akan kukirim bibir untuk kau cumbu.

415. Dengarkanlah lantunku; yang selalu menyanjungmu di setiap malamku. Ku kan selalu berpijar, menunggu kembalimu.

416. Tak pernah terbesit aku tuk tinggalkanmu. Hanya saja, luka itu; pergi bersamaan hatimu.

417. Aku merindukanmu, ada dan tanpa kesadaranku, dengan dan tanpa kemunafikanku.

418. Tak ada yang lebih rumah, kecuali kecupmu; yang menantiku di beranda malam ketika ku pulang.

419. Aku mencintamu; dengan atau tanpa luka.

420. Ketika aku dewasa nanti, ingatkan aku, sayang; bahwa aku bisa mendewasakan aku, untuk bersamamu.

421. Terkadang serigala pun letih terhadap lolongannya, tapi rembulan tetap menghangatkan; seperti aku, dan airmatamu.

422. Izinkan aku mengecup bibirmu; menyembuhkan luka kering kerontang akan gurun hati yang tak ada akhir.

423. Beginilah aku, bila sedang di mabok cinta; aku yang selalu menagih rindu, pada lirih yang tak merdu. Dan sunyi tak bersuara.

424. Aku seperti mendung yang menaungi langitmu; menjatuhkan berbagai luka, lalu mengindahkannya dengan pelangi.

425. Percintaan kita, sayang; bak nyanyian merdu, langit membiru, dan luka yang berlalu.

426. Cinta itu; walau jasad datang dan pergi, cinta takkan pernah mati. Ia berbekas, sama seperti luka yang abadi.

427. Cinta itu adalah kekayaan; dimana luka dan rindu tak dapat dibeli atau diuangkan.

428. Sayang, otakku keram, jiwaku sensitif ketika tidak ada kamu. Hanya bibirmu yang bisa dimengerti oleh mereka.

429. Jika cinta itu kejam, sayang; maka aku akan menyayat luka-luka yang pernah kau dera, agar ia sirna.

430. Jika harus putus cinta, aku rela meski kehilanganmu. Tapi aku tak rela bila aku mati; aku yang tak bisa lagi mencintaimu.

431. Cinta saat kau mendekat; kau membuat telapak tanganku berkeringat, jantungku berdetak cepat, dan suaraku tercekat.

432. Tatapan matamu; membuat hatiku berdegup kencang, dan hilang logika di otakku.

433. Cintamu itu, sayang; selalu memaafkan ketika luka saling menyakiti.

434. Cintaku padamu; menerima segala kesalahan dari dirimu. Dan ikut bersedih walau kau kuat untuk melawan jerit tangismu.

435. Setia itu sayang; aku yang tertarik pada orang lain selain dirimu, tetapi cintaku utuh untukmu seorang.

436. Kamu bukanlah seseorang yang selalu aku pikirkan, sayang. Kamu adalah sesuatu yang setiap waktu aku rasakan kehadirannya.

437. Karena cinta itu dahsyat, makannya aku menciummu dengan cepat; agar aku dapat merasakan rindu, dengan hikmat.

438. Aku mencintaimu utuh, ada pohon, ranting, akar, daun serta buahnya. Yang hidup oleh air dan cahaya; kepercayaan dan pengertian.

439. Hujan mengingatkanku akan dirimu dan rindu. Membasuh luka kala cinta mencintaku.

440. Cintaku ini gila, manisku. Adalah aku yang membuatmu kehilangan akal, agar hanya aku yang selalu mencintaimu.

441. Suaramu meneduhkanku; lebih dari secangkir teh yang hangat, lebih dari hujan di kala senja, lebih.

442. Jika cinta itu abadi; Aku mau, hidup seribu tahun lagi hanya untuk mencintaimu.

443. Sayang, kukirimkan sepotong tangan kananku melalui surat berperangko kilat. Agar kau dapat menulis sendiri isi rinduku.

444. Aku melebur ketika kau kecup bibirku; ludah yang menghilangkan bau-bau luka atas dera kehausan akan rindu kita.

445. Terkadang nasi dapat menyampaikan rindu; membuat nempel perangko di surat cintaku padamu.

446. Aku dan kamu; bagai bibir yang terkatup rapat bila terluka, dan berbicara hanya jika merindukan satu nama.

447. Bibirku ini; seperti kering kerontang ketika kau terluka, dan basah bila kau sedang merindu kita.

448. Jarak itu tak menggoyahkan rasa kita; melainkan mengkristalkan rindu yang maha.

449. Kau, yang mengajari aku rasa; pertama kali kukecup bibirmu, manis terasa. Kedua kalinya, asin dan asam bermuara disana.

450. Bibirmu itu seperti panduan sederhana; menyembuhkan kesenjangan rasa pada diri yang sedang tersiksa.