601. Ada dua hal yang membuatku tidak bernafas; ketika aku mati, dan saat berciuman denganmu.

602. Pasir-pasir halus yang melumuri tubuhmu itu, kasih. Menaburkan doa yang memberikan kecerian ketika kita bermain di pantai kala senja.

603. Karena matamu adalah lagu, dan kecupanmu ialah notasi merdu. Yang membuat cumbu, menjadi selalu yang aku rindu.

604. Saat aku melihatmu, seakan kematian tak ingin menghampiriku. Karena ia tahu, aku mencintaimu dengan seluruh kehidupanku.

605. Cinta seperti lautan tak berujung, damai pada yang lain. Hatiku hatimu, sumber yang konstan untuk sebuah keajaiban.

606. Cinta itu bukanlah disaat awal, melainkan disaat akhir kau menentukan aral dan tujuan hidupmu, demi cinta.

607. Cintamu, memetaforakan rasaku, menghidupkan degup-degup yang layu.

608. Ajari aku cara melukaimu, agar aku tahu bagaimana tulusnya nanti mencintaimu.

609. Ajari aku bahasa rindu, agar tangisanku tak lagi sedu.

610. Ajari aku melupakanmu, agar kenangan ini, tak selalu membencimu.

611. Ajari aku cara membencimu, agar kenangan ini, tak pernah berlalu.

612. Mungkin aku ditakdirkan bersamamu, buktinya; jantung kita berada dalam satu degup.

613. Aku ingin menjadi lesung di pipimu, sehingga di setiap indah senyummu, ada aku.

614. Aku ingin menjadi baju yang selalu kau pakai, sehingga ia melindungimu, dari dinginnya malam dan teriknya mentari, pun menutup auratmu.

615. Aku ingin menjadi bibir yang selalu menciummu, sehingga bila dada dan dahimu terluka, aku akan setia membasuhnya dengan air liurku.

616. Aku mau menjadi airmatamu, tempat kau tersedu merindukanku.

617. Aku mau, menjadi hujan yang membasahi tubuhmu, dan mengering sendirinya ketika kau rindu, aku.

618. Aku buyar ketika tangan-tanganmu menjauhiku. Dan ketika kau datang, aku sempurna dengan kau susun kembali puzzle itu; hatiku.

619. Aku hilang, ketika malam tiba dan kau tiada. Seperti berhala yang tak patut disembah, aku terharamkan.

620. Coba jelaskan, bagaimana aku bisa mati mencintaimu, bila degup jantungku ada padamu?

621. Coba renungkan, kau pilih aku pergi, atau hatiku yang mati?

622. Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain sang maha cinta, yang memberikan cinta yang maha untukku, padamu.

623. Tak ada yang lebih kelam dari hatiku yang karam kala malam menjelang tanpa kehadiranmu.

624. Bila cinta sudah melekat, malam pekat seakan singkat, pun luka terasa coklat.

625. Dan percintaan kita, kasih; kita bercinta diatas luka yang maha, pun mati kita lupa.

626. Hujan; isyarat rindu, bahwa kau akan datang padaku sesudahnya, menjelma pelangi.

627. PAGI selalu sejuk lewat sapamu, teduh relungku melihat senyummu. Keindahanmu; dimana kau tetap menjaga semua itu, untukku.

628. Ada yang usang dari kita, adalah usia. Tapi hati yang tua semakin matang, semakin menjadi-jadi, cintanya. Jadi, janganlah takut karena waktu.

629. kau mengendap di embun pagi, menyejukkanku dari usia yang menggerogoti.

630. Dengan jaraklah kita dapat mengukur kasih, mengkristalkan rindu. Menjadi sebuah yang sangat berharga, demi cinta.

631. Aku berenang lewati samudera, menghantam jarak dan waktu yang berharga. Hanya untuk sebuah ciuman, darimu, meneduhkanku.

632. Aku menanti, dimana waktu terhenti dan hanya ciuman kita yang berdetak-detak dalam sepi ini.

633. Tak perlulah aku menggunakan senter di kegelapan, asal kau bersamaku; benderang cahaya matamu, melindungiku.

634. Tak ada yang lebih senja daripada ciumanmu di kala malam, penerang yang kelam, pemapah yang karam.

635. Sunyi adalah ketika hatiku terluka, untuk merindumu.

636. Sunyi adalah ketika rindumu, tak memikirkan aku.

637. Sunyi adalah di kala senja rindumu, tak lagi menyentuh bibirku.

638. Sunyi adalah ketika airmata berbisik sedu tentang rinduku akan cumbuanmu.

639. Sunyi adalah ketika aku, dan kamu, terperangkap dalam kematian, tak lagi mencinta.

640. Sunyi adalah ketika aku berada di keramaian kota, dan tak ada kamu disana.

641. Sunyi adalah ketika engkau mati, dan tak ada lagi yang kudambakan, pun kurindukan.

642. Sunyi adalah manakala mentari dan bumi tak tersenyum lagi; disana hujan membiaskan kerinduanku, pun cintaku padamu.

643. Dan sajak-sajak manis ini, takkan kabur oleh usia, pun rindu yang mengkristal menjadikannya kekal mencinta.

644. Aku tak paham tentang cinta, yang kutahu hanyalah memberimu lebih; dari apa yang aku tak punya.

645. Merindukanmu seperti kematian; aku terperangkap dalam kotak sunyi yang dibingkai oleh malam.

646. Tanpamu; malam menjadi karam yang kelam di dalam cawan nan suram kalbuku.

647. Awan membentuk bibir di langit kala senja; melukiskan rindu yang diterjemahkan oleh hujan, dan dera.

648. Malam adalah tempat kita bertemu, memapah rindu yang aduh. Bulan adalah waktu kita bercumbu, dan berpamitan kala subuh.

649. Cinta itu tak menakutkan, sayang. Seperti aku yang telah dimakan rayap dan mengentayangimu setiap malam.

650. Bila aku adalah kematian, maukah kau mati mencintaiku?. Hanyalah aku dan kamu, abadi melepas rindu.