651. Tak ada makna yang paling selain ciuman. Dan teduh yang maha adalah pelukan.

652. Dan baju yang paling hangat ialah pelukanmu, kulit menyentuh kulit membuyarkan musim yang dingin.

653. Kebohongan mungkin suatu permulaan yang manis, untuk kita mengetahui; apakah itu cinta, atau senyum yang bengis.

654. Dan cintaku, terbata-bata dalam mengeja namamu; mungkin aku yang terlupa, mengambil hatiku yang hilang bersamamu.

655. Jika cinta adalah kasta, maka aku harus terlahir sebagai sendok perak untuk bisa berdampingan denganmu di meja makan.

656. Aku tidak berjuang untuk cinta; aku mencari aku di dalam dirimu, bila tak ada itu, aku pergi.

657. Bila kau rindukan aku, sebut saja namaku dan aku berlari. Di depan pintumu aku mengetuk, di lubuk hatimu aku berbisik; kenangan.

658. Aku tahu rasanya itu, mencintai dan terjatuh. Tapi satu yang kupahami lebih; merindukanmu tanpa pamrih.

659. Ketika kau pergi, embun pagi pun enggan menyentuhku, karena dia yakin; bahwa hanyamulah yang dapat meneduhkanku.

660. Aku selalu di dekatmu; menjelma selimut, guling, dan baju yang kau pakai untuk menghangatkanmu.

661. Ciumanmu, seperti misteri berkasih; yang mencetak rindu, membasuh perih.

662. Dan perpisahan hanyalah kuasaNya, sedangkan aku, tak kuasa untuk melepasmu, pun cintaku.

663. Senja selalu saja indah, dengan cahaya matamu sebagai penutupnya. Dan ciumanmu sebagai pembuka malam tiba.

664. Tak ada obat dokter yang paling canggih selain ciumanmu; yang menghilangkan dingin di sekujur tubuhku.

665. Dingin itu hujan, panas itu cemburu; yang selalu menyelimutiku saat kita berjauhan.

666. PAGI adalah sebuah rumah, yang menjagaku dari mimpi buruk; memandang wajahmu, ketika aku membuka mata.

667. Aku sudah lama tidak membacanya; isi hatimu, yang biasanya aku raba dengan mengecup bibirmu.

668. Sayang, tatapanmu seperti api; yang selalu membakar hatiku bergelora ketika kita berciuman.

669. Aku rindu, menidurkan dirimu sambil bernyanyi lagu kesukaanmu. Menjaga lelapmu hingga pagi kau membuka mata; aku disisimu.

670. Aku rindu; menidurkan sepi, dikala ciumanmu jatuh ke pangkuanku.

671. “Cinta itu perjuangan, jenderal!” Kata pejuang yang sedang berjalan melewati medan luka dan dera air mata.

672. Di setiap dentingan piano, aku mendengar suara keindahan. Entah apa itu cinta atau luka, yang buat airmataku jatuh; merindumu.

673. Ketika kita saling meluka; ingatkan aku, bahwa dulu aku pernah jatuh mencintaimu.

674. Dalam tidurmu, ada lelapku disana. Di dalam mimpimu, ada aku menjelma; menjadi penuntun rindu, kala dunia tenggelam kelam.

675. Jika cintamu pergi; hanyalah airmata menemaniku sepi/seperti pagi/menanti senja kembali.

676. Rinduku adalah padamu; tentang sepi yang sering mengetuk, tentang duka yang ingin kupeluk.

677. Cinta yang kupunya selain luka adalah kepercayaan; percaya bahwa aku menyayangmu, merindukanmu, pun membutuhkanmu.

678. Apalah dayaku untuk meninggalkanmu, kenangan; satu kehidupan pun takkan cukup untuk melupakanmu.

679. Andai aku airmata, sumber luka yang maha. Maka kamu adalah mata, sebagai cawan penampung doa.

680. Aku adalah milikmu, sepenuhnya mencinta dan tak bisa menjauh. Aku adalah cintamu, hati yang merindu atas luka dan dera airmata.

681. Cinta kita murni; seperti kicauan burung-burung di pucuk pepohonan. Seperti riaknya air yang mengalir dengan arus yang jernih.

682. Cinta kita murni; seperti doa-doa yang kita pinta kepada sang pencipta. Seperti segelas teh yang diseduh dengan rasa manisnya bibirmu.

683. Cinta kita murni; seperti anak kecil yang bermain kotor lalu pulang kerumah sembari tersenyum.

684. Cinta kita murni; seperti buah inspirasi yang tumbuh dengan sendirinya. Seperti luka diteduhkan oleh hangatnya sebuah pelukan.

685. Aku bahkan tidak pernah ingat, kapan aku tidak merindukanmu.

686. Ada sebab di dada yang selalu menyesakkanku; ketika cemburu membakar hati, dan air mengguyur mataku.

687. Aku mencintaimu dengan sedikit demi sedikit; agar tak berhamburan dan terlesapkan luka.

688. Biarkan kita berciuman di depan Tuhan; agar Ia tahu, bahwa setan sepertiku pun punya hati untuk mencintai.

689. Tak satu setan pun tahu; bahwa cinta kita terukir di atas kematian yang mereinkarnasi menjadi alam; hidup untuk mengindahkan.

690. PAGI menjelang, para syaitan meringkuk sepi menunggu malam. Kala senja ia girang, dapat kembali bertemu malaikat penghapus kelam.

691. Sebab sesuatu hal di dada, membuat sesak semakin dera; ketika aku rindu, dan tak ada aku dengar sebentar pun suaramu.

692. Jika mencintaimu harus mati; aku lebih memilih mengunjungimu dengan bunga dan sebotol air murni. Hingga nanti, setia menemani.

693. Tak ada kamu tak lengkap isi kasurku; aku, kehilangan pelukan yang setia menerima ilerku sepanjang malamku.

694. Aku rindu, kala kita bercengkerama di dekat perapian. Berciuman di kala setan mengintip di baliknya, cemburu.

695. Dan kasih, aku hanya ingin merasakan sekali kehilanganmu; agar aku tahu, bahwa cintaku benar utuh untukmu.

696. Dan kasih, aku hanya ingin merasakan sekali kehilanganmu; agar aku tahu, bahwa cintaku memang benar utuh untukmu.

697. Ingin rasanya aku meminta kepada Tuhan; jangan berikan kami sebuah nyawa, yang hanya akan menjadi jarak bagi cinta kita.

698. Tahu tidak apa yang kusuka darimu selain ciumanmu; binar matamu yang berkilau-kilau seperti rumah bagiku.

699. Aku seperti hujan, yang menangisi awan ketika ia sedang tersedu menatapku; rindu.

700. Api yang berkobar di dalam hatimu adalah cemburu, yang aku nyalakan untuk dapat melihatmu; terjatuh mencintaku.