701. Tuhan melaknatku bila aku mengutuk cintaku; selain untukmu. Dan mematahkan kedua sayapku, hingga aku kembali manusia.

702. Kau tahu aku pasti datang, tak perlu mati untuk mencintaimu; cukup menikmati senja dikala rindu itu tiba, dan terlesap malam.

703. Aku mencintaimu tanpa jarak; pun nyawa sebagai pembatas usia, tembok rindu yang terjal berliku, takkan cinta kita tersedak.

704. Aku seperti macan yang taringku adalah kau; Membantuku hidup dan menjaga kehidupanku.

705. Ah, sudahlah, aku ingin tidur; bila hanya amarah yang terus kau cumbu, biarlah malam menghapus jejakmu.

706. Kau selalu menenangkanku; disaat gundah gulanah menerjangku, disaat airmata terbata membaca larik-larik puisiku.

707. Jika rindu adalah kamu; maka aku sebagai lukamu.

708. Jika Cinta adalah suatu kelupaan; maka kita akan terus berkenalan dan pura-pura malu di setiap harinya.

709. Jika cinta adalah makanan; akan kulumat bibirmu seperti sushi, dan mati kelaparan bila jauh darimu.

710. Ketika hujan adalah suatu hal yang selalu kunantikan; dirimu yang menjelma pelangi.

711. Ketika hujan adalah suatu pengingat; bahwa pelukanmu teduh, dan ciumanmu benar hangat.

712. Ada tenang dalam hening, masuk melalui celah hati. Ada gusar dalam tanya, kapan tiba cintaku mati.

713. Tak ada yang lebih terjal dari cinta, dan bila kuterjatuh; terebahlah aku di lembah luka.

714. Semua harapku; bunga-bunga cinta bermekaran di atas tanah tandus. Pun rindu tersemaikan luka dan asa tak pernah pupus.

715. 40 hari aku menahan siksa, dalam hati. Bukan karena sebuah dosa; melainkan rindu yang tak pernah mati.

716. Aku menuliskan setiap larik-larik cinta, tapi ada sesuatu hal yang aneh; ketika tintaku habis, untuk menuliskan luka.

717. PAGI adalah bening matamu, yang menyejukkan risau hatiku; tempat aku mencintaimu berkali-kali.

718. PAGI adalah cinta yang nyata, dari mimpi tentang kita; atas luka dan rindu yang maha.

719. Sesat itu nikmat, sayang. Seperti aku yang berkelana menuju hatimu, meluka-luka demi mencari suatu kepastian; cinta.

720. Entah apa jadinya aku tanpamu, mungkin menjadi perindu sejati, atau hati yang membeku mati di sudut ruang yang sunyi.

721. Kematian itu indah, sayang. Seperti aku menusukmu, luka; di dekat usus besarmu, di samping rindu dan dera airmata.

722. Cinta ini seperti susu; bila hangat dia nikmat, bila dingin dia mengental, dan hanya basi bila tak ada yang meminumnya.

723. Cinta ini seperti madu; kau akan merasakan luka dahulu, baru menikmati manisnya rindu.

724. Bagaimana bisa aku mengatakan aku mencintaimu? Jika bibirku tertahan oleh ciumanmu.

725. Hidup kita bisa saja berakhir tapi cinta kita tidak akan pernah berakhir.

726. Aku, peziarah cinta. Yang menaburkan larik-larik sendu pada hatimu, di atas kerinduanku.

727. Kelak anak-anak kita menziarahi kita; pada cinta yang tak pernah padam, untuk kasih sayang yang tak pernah habis masanya.

728. Dan sajakku ini tanpa luka, kenangan, dan airmata. hanyalah rindu yang melulu, dan hasrat yang bara.

729. Hidup itu indah dengan cinta; yang memaklumi sebelum salah, dan memaafkanmu setelah luka.

730. Kerinduan, dan luka duka yang dewasa; adalah cintaku.

731. Jika ada yang lebih maha dari cinta yang memaafkan dera luka; itu aku, yang membunuh rinduku agar hatimu bahagia disana.

732. Kunanti rindu kupu-kupu, pun lama tak hinggap di kebun cintaku. Dan Kelak kuntum-kuntum hatiku, kan selalu bersemi untukmu.

733. Mimpi adalah tempat yang tepat untuk mengingatmu sekali lagi; dimana waktu takkan pernah cukup untuk merindukanmu berkali-kali.

734. Mengejarmu seperti mencetak angka, berlari menggiring bola dan terjatuh. Apakah ini permainan cinta, atau hasrat yang berjuang teguh.

735. Sekarang aku tahu rasanya cinta yang mencintaiku; seperti aku yang dilahirkan memang untuk menujumu.

736. PAGI begitu indah, melahirkan kesejukkan; seperti kau selalu disisi, ketika aku membuka mata.

737. PAGI begitu sorga, adalah ketika aku menghapus liurmu, mensesapkan tahi matamu, lalu mengecupmu mesra.

738. Seperti langit pada bumi, terpisah dengan jarak; suatu saat kita akan berpelukan, sekalipun itu di akhir cerita.

739. Lahirnya suatu kepedihan; adalah kau tidak ada disaat rinduku sedang menjelma.

740. Mencintaimu takkan pernah mati; karena aku selalu terlahir, dari tiap bulir  kerinduanmu.

741. MALAM adalah benderang untuk kita, demi rindu yang tak lelah menyapa. Untuk waktu yang di janjikan, dan rasa yang tercaci maki.

742. Mendung menggantung aku terkatung-katung; menjadi perindu yang ulung pada hati yang belatung, atas rasa yang agung.

743. Sedari dulu tak pernah ada luka, sampai ketika nyawa yang memisahkan kita.

744. Jika bulan penerang rindu,adalah malam tempat bintang berandu. Hanya kau yang aku tunggu, tuk mengisi kekosongan di hatiku.

745. MALAM tempat kau merengkuhku, melesapkan gelap yang pekat. Kala pagi ku tersesat, mencarimu diantara jejak rinduku.

746. Aku merintih pada lirih yang sunyi, akan rindu yang maha, akan cinta yang terlalu, dan luka yang selalu membisu.

747. Jejak malam melirih sepi, akan rindu nan abadi. Dan kubertanya pada pagi, kembalinya kau pencuri hati.

748. Aku selalu memperhatikanmu; walau kata tak bicara, bibir tak berucap, tangan tak bergerak, aku selalu mencintaimu.

749. Sebelum mataku melamur, dan sebelum cintaku dimakan umur. Aku hanya ingin kau tahu; bahwa rinduku uzur, menantimu hingga tubuhku menjamur.

750. Ketika aku bertanya mengapa kau tiada; ketika itu aku menemukan cinta.