751. Kubiarkan kaki berlari tertatih, merintih akan rindu yang nostalgi. Kulesapkan luka-luka maha, mustahil kulupa lahirnya sebuah rasa.

752. “kemari sayang, kubisikkan sebuah sajak untukmu”; sajak yang mengharu biru, ajarkanmu ketabahan bila esok aku mati.

753. Aku benci, benci! Mengapa bukan aku terlahir lebih dulu; agar kesedihan itu, tak melihatku mati untuk sebuah kehilangan.

754. Aku lupa bahwa kau cinta, aku khilaf untuk perhatikanmu. Tapi yang kuingat ialah satu hal; aku hidup dan bernafas untukmu.

755. Dari kata kau tercipta, demi kata kau mencinta. Dari luka kau dewasa, untuk rasa kau menggila.

756. Demi rasa, dan jarak yang bangsat! Kumuntahkan isi perut bumi, kuterpa badai; demi rindu yang dahsyat, demi rasa.

757. Cintaku samudera, hatiku angkasa, semua demi bumi yang tak lelah menampung langitnya.

758. Aku bukan dewa yang bersinggasana, bukan pula pemburu rasa. Aku hanya pejalan kaki, yang fasih ketika menyebutkan satu nama.

759.  Bibir terkatup rapat terluka, menganga tergores kenangan. Dia hanya dapat berucap kata, setelah kau mendaratkan sebuah ciuman.

760. Kubiar rindu dalam angan, kulesapkan luka pada erangan. Dan hujan sembunyi di balik awan, kau mentari tak tergantikan.

761. Biarkan kita dicaci kata, dicela luka, dinista rasa; asalkan kita, saling percaya, dan untuk selamanya.

762. Aku ingin bulan, hadir di pelukanku, yang hangat menyelimutiku. Aku ingin dirimu, merindukanku, dan tak lekang oleh waktu.

763. Dan puisiku ialah bahasa sunyi, yang lengking teriak dari dasar hati. Agar kau pahami, bahwa aku selalu menanti.

764. Sunyi adalah tempat teraman untuk aku menutup luka; dari rindu dan dera airmata.

765. Ketika sunyi adalah waktu yang sempurna untuk aku; menjatuhkan airmataku karena terlalu merindumu.

766. Tanpa kaki, aku berjalan melalui rindu, berenang lewat tepian luka. Tanpa mata, aku mencintai senja, melihatmu dengan sunyi.

767. Dari luka aku belajar bahagia, merasakan semua peluh menjadi rindu yang melulu.

768. Ketika malam adalah tempatku berteduh, dari teriknya siang dan luka yang pilu.

769. Malam adalah penerang dikala petang bermain riang pada rindu yang hilang.

770. Malam waktu kita berciuman, melabuhkan sebuah rindu yang rawan.

771. Cukuplah malam melesapkan segala luka; dengan rindu dan dirimu, yang menjadi penghapus kelam.

772. Hanyalah aku penikmat kesunyian malam, dengan rindu dan airmata yang selalu aku sulam.

773. Cukuplah aku dan rindu yang bercengkerama kala malam, pada pagi kulesap semua angan, menuju kenangan.

774. Malam menterjemahkan segalanya; dengan rindu yang menguap, dan sunyi yang selalu aku sesap.

775. Dimana lagi aku dapat bertemu sepi, selain dari cahaya matamu; yang membinarkan kerinduan.

776. Malam adalah tempat aku berkata-kata, mencaci siang yang telah melukaiku. Tempat aku memelukmu, dan tak kuanggap pagi itu ada.

777. Puisiku bahasa kalbuku, tempatku mencaci rindu. Dan menyiksa luka yang jahanam, melawan kesunyian.

778. Pelukanmu menguatkan aku, melawan dera luka dan pilu. Ciumanmu adalah bahasaku, dalam menterjemahkan rindu.

779. Aku meluka ketika pagi tiba, melepasmu saat malam sirna. Sampai jumpa di pulau cintaku, ditempat yang tak pernah kau tuju.

780. Lari-lari merintih tanpa alas kaki, dengan duri yang tertancap di dahi. Aku lupa; bahwa luka yang mengajarkan segala, pun mencintai.

781. Aku selalu melihatmu, walau aku tak tampak olehmu. Aku selalu bersamamu, walau tak kau rasa kehadiranku.

782. Lagi-lagi aku bercinta dengan sepi, apakah rasa itu benar ada, atau hanya bibirmu yang dapat menterjemahkannya.

783. Mungkin hampa yang tak pernah ada luka, pun cinta di dalamnya; aku yang  bersedia terluka, hanya untuk mendengarmu menyapa.

784. Dan ketabahan dari cinta itu; butir-butir airmata yang terjatuh karena setia menahan rindu.

785. Hujan adalah saat aku mempunyai alasan; untuk menggenggam tanganmu kuat, dan memelukmu lebih erat.

786. Adakah yang lebih indah; selain dicintai oleh luka, dan dijawab oleh rindu.

787. Cintamu mengajarkanku tabah dalam menjawab rindu, pun ikhlas dalam meneteskan luka, dan membingkai sebuah kenangan menjadi indah.

788. Kubiarkan nada sendu itu bernyanyi sendirinya, karena aku tahu; disitu ada rindu yang terlalu, pun sedang kunikmati.

789. Anjing! Untuk rindu yang selalu menggonggong, menanti seonggok hati, yang kuperjuangkan meski mesti mati.

790. Dalam diamku, adalah bara yang menyala api. Menetaskan telur-telur kedinginan, melesapkan abu-abu sepi.

791. Dalam tanya ada nyata, dalam sara ada rasa. Yang basi yang bias, yang terpalu yang terlupa.

792. Ada kata pada mata, yang cerita tentang kita; jika bertemu suka bercumbu, kalau berlari galau mencari.

793. PAGI adalah wajahmu, yang berembun di jendela kamarku. Menebarkan wangi surga, memberikan rupa warna.

794. PAGI tempat memanggil kembali, apa yang dititipkan oleh malam. Menyimpan sebuah cerita, dan berulang dalam angan.

795. PAGI adalah saat yang aku benci, ketika harus membangunkanmu dari indahnya mimpi.

796. PAGI memberi warna dari kelamnya malam, memberi kekuatan akan teriknya siang; hingga kembali PAGI, senja setia menanti.

797. PAGI selalu mewarnai hari, mendamaikan yang pergi, memberi jalan untuk kembali.

798. PAGI adalah damai wajahmu, yang kupandangi setiap terbangun dari mimpiku.

799. PAGI adalah tempat cinta bermula; ketika aku sedang berlari PAGI, ketika kamu di depan rumah berdiri, menanti mentari menyinari.

800. PAGI adalah tempat aku menutup mimpi, melanjutkan mencintaimu dengan nyata.