801. SIANG adalah hiruk pikuk cobaan, yang bimbang yang menyilaukan; pertanda hati perlu keteduhan.

802. SIANG adalah berburu waktu, untuk sampai ke telaga airmu: meneduhkan terik gurun hatiku.

803. SIANG tempat aku berjaga-jaga akan hatiku; banyak cinta datang mencoba menyilaukanku.

804. SIANG adalah waktu kita terlerai, dimiliki oleh hal yang lainnya dan bertemu lagi kala malam nanti.

805. SIANG adalah jembatan antara luka dan rindu menanti hingga malam tiba, dan kau menceritakan semua kisahmu padaku.

806. SIANG adalah terik yang mengguncang kalbuku, melesapkan rindu yang kutanam dalam hatiku.

807. SIANG adalah angkara, memaksa kita berpisah dalam kata dan nyata, aku tak rela.

808. SIANG menuntun kita untuk bijak, karena ia memaksa untuk menyantap luka.

809. SIANG adalah kebencian yang menjadi-jadi, sama seperti cinta; yang kedua hal itu melekat pada kenangan.

810. SIANG tempat aku menguji, apakah rindu ini semu, atau cinta yang malu-malu.

811. SENJA adalah rumah; hatimu, tempatku berlabuh dari siang yang terlalu terang.

812. SENJA tempatku pulang, dari berjuang akan siang, dari godaan yang selalu menyilaukan.

813. SENJA selalu teduh, sedamai pelukmu, sehangat ciumanmu.

814. SENJA selalu berbisik; tentang kerinduan, dan cintamu yang sajak.

815. SENJA begitu tenang, hingga ia tak tahu kapan cinta itu datang, kapan cinta pergi, dan menghilang.

816. SENJA nan muram, bila mentari lelah menyinari, dan rembulan pun tampak mati; andai aku tanpa rinduku, pun kau yang mencintaku.

817. SENJA datang sambut rembulan, ia mengadu pada rindu, berbisik pada sunyi, dan menanti sebuah harapan.

818. SENJA-ku nyanyian rindu, mengejar waktu bertemu malam, pelukanku mendekap waktu, kurayu pagi tuk terus tenggelam.

819. SENJA tempatku labuh, dari terik dan paksaan. cinta rumahku teduh, berbisik rindu dan rayuan.

820. SENJA tempatku menatap langit, akan rindu yang legit. Walaupun terasa sangat sakit, tapi SENJA tak pernah khianat.

821. SENJA adalah musimnya cinta, tempat hati berlabuh padanya. Aku adalah pujangga buta, tak peduli itu rindu atau luka.

822. SENJA adalah pelabuhan luka; dari siang yang tak mau mengerti, dan malam yang tak pernah menanti.

823. SENJA seperti rupa-rupa pada rindu yang pura-pura, menyamar menjadi lupa, menyusupkan luka-luka.

824. SENJA adalah biang kecemburuan; dari malam yang merindu, siang yang memaksa, dan pagi yang dilupakan.

825. SENJA tempat tuk mengerti; yang mana cinta, yang mana menyilaukan mata.

826. MALAM membasuh peluh rindu, tempat aku mengunci kenangan.

827. MALAM adalah perjalanan panjang, tempat gelut kesah dan rindu.

828. MALAM tempatku menantang waktu, akan luka yang lalu, dan rindu yang terlalu.

829. MALAM adalah rindu, yang terbayarkan lunas, tuntas berikut bunganya; sebuah pelukan dan kecupan.

830. MALAM tanpa pulasan, tempat kita berlabuh di ranjang kerinduan.

831. MALAM tempat aku terjaga, dari mimpi yang kian hari kujalani.

832. MALAM adalah tempatku terjaga, denganmu disiku; bahagia, seolah-olah tanpa waktu.

833. Dan malam, pagi, siang maupun senja adalah rasaku, bukan hariku; seolah-olah aku, menterjemahkannya tanpa tahu itu waktu.

834. Rindu, tak mengenal perbedaan waktu, pun luka; rasa menterjemahkan segalanya.

835. HATIKU cabang yang berakar-akar ke dasar semak belukar; disana ada aku dan rinduku, yang sedang menyatu.

836. HATIMU lemari, menyimpan luka dan segala keluh kesahku; tempatku percaya untuk selalu berlabuh padamu.

837. MALAM aku terjaga, hanya ingin berbicara denganmu, tentang kenangan yang berdebu.

838. MALAM membisu, menyaksikan sebuah rindu; yang sedang bercinta, yang lesap dari candu luka.

839. Aku hanyalah peribahasa, yang tak pandai berkata-kata. Aku hanyalah pujangga rasa, yang tak jua rindu itu lelah.

840. MALAM adalah nama lain rindu, deranya luka, dan rumah singgah; malam yang selalu denganmu, pun  membuat aku merasa rumah.

841. Untuk dia yang setia, demi rasa yang abadi; aku bersimbah rindu dari dinginnya malam dan dera airmata, bila kau pahami.

842. Dan sajak-sajakku membaca sedu, setiap larik-larik rindu yang mencandu; dari dinginnya MALAM tanpa peluk dan kecupmu.

843. Satu agama untuk satu keimanan, satu kehidupan untuk satu kematian. Begitu pula dengan CINTA; SATU yang selalu menjadi KENANGAN.

844. Bila asa itu ada, yakinkan aku kau merasa. Bila rindu itu semu, maka patut aku tuk kau bunuh.

845. Dari kata terlahir makna, dari luka menjadi asa. Untuk rasa kau berbahasa, dari buta merupa cahaya.

846. Kemanakah dirimu sayang? Rinduku memanggilmu tuk datang, tanpa sehelai baju pun kutang; hanya ciumanmu buatku tenang.

847. MALAM penuh warna, yang semakin terang ketika kau datang; pada rindu ia berkubang, pada luka ia bersarang.

848. Terkadang, ketika luka menghampiriku, kucoba melupa mencari kesibukan; bermain puzzle menyusun hati, yang sedang dirawan rindu.

849. MALAM adalah tempat aku menuliskan rindu; tanpa pernah aku tahu itu sajak, atau sesak.

850. MALAM terangkum dalam biru, yang dilesapkan oleh waktu; apakah itu kerinduan, ataukah kehilangan.