Sajak menggambarkan kerinduan; nun jauh dimata, nan dekat di hati.

Di bibirmu, ada sajak yang tak dapat diungkapkan dengan lisan maupun tulisan; hanya dengan ciuman ia merupa syair kerinduan.

Matamu, cermin untuk kulihat kesungguhan cintamu; ketika kau tak pernah terpejam saat daratkan ciuman itu.

Rindu tak pernah cemburu; ia selalu tabah dalam menunggu waktu, dan setia untuk mengukur jarak temu.

Ada yang tak pernah hilang dari ingatanku; berupa ciuman, pelukan, dan senyummu yang selalu menawan.

Seperti Tuhan yang penuh kasih dan sayang pada umatNya; seperti rindu dan luka pada cinta.

CINTA adalah kita, bukan aku, atau kamu saja.

KENANGAN adalah kobar cinta yang tak pernah padam, dari rindu pun luka yang telah kau tanamkan.

RINDU adalah teringat kenangan akan cinta kita dulu.

LUKA adalah cinta yang berupa kenangan, hanya rindu yang melulu sepanjangan.

SEPI adalah cinta tanpa kenangan, rindu tanpa luka.

Mungkin aku tahu apa itu bahasa kesunyian; tanpa buaian, tanpa belaian, yang tersisa hanyalah sebuah kenangan.

Aku seperti saudagar kaya raya, memiliki hati luas sepertimu; aku menjadi yang paling beruntung memiliki bahagiamu.

Sebut namaku tiga kali, kan kukecup manis bibirmu beribu kali.

sederuderunya airmataku, masih deras pengharapanku pada cintamu.

Di bibirmu tempat labuhan rinduku, dan di pelukanmu tempat aku terjatuh mencintaimu.

Rindu ini menggerogotiku. Tubuhku lesap dilumat rindu; yang tersisa hanyalah satu, tulang rusukku; kamu.

Terang yang paling benderang adalah matahari-Mu di pagiku. Sejuk yang paling teduh ialah pagi-Mu memelukku.

Tak ada yang lebih bahagia, selain aku yang dicintai oleh-Mu.

Sejenak aku terdiam merapal doa kepada-Mu, meminta dengan segala hina yang ku punya. Tapi asaku menjawabnya; dengan kasih-Mu sebagai tumpuannya.

Aku mencintai-Mu, terlebih aku mencintaiku. Tapi tetap tak bisa melebihi, cinta kasih-Mu kepadaku.

Pernah aku melihat cakrawala keemasan, berkilau menerangi harapan; tersadar ku berpikir bahwa, kau pernah lesap dari ingatan.

Adakah alasan untuk aku melupakan-Mu?. Tidak untuk saat ini, hingga aku kembali pada-Mu.

Cinta kepada-Mu membuatku hidup dengan penuh harapan. Rindu kepada-Mu membuatku candu atas doadoaku.

Yang nyata bagiku bukanlah wujud-Mu, melainkan hangat cinta kasih-Mu.

Aku mencintai-Mu, karena itu aku bernafas untuk-Mu.

Tak kutakutkan bila dunia ini berakhir; dengan begitu aku dapat menyampaikan sendiri pesan rinduku pada-Mu.

Aku tak tahu, apa yang sedang tersesat di dadaku; apakah itu wajahmu, atau suaramu yang merdu.

Seperti wajahwajah puisi wajahmu mewajahkan perasaan yang diwajahi kerinduan.

Tanpa tapi dan jika, aku mencintaimu tanpa kurang.

Senyummu itu tempat bernaungnya cintamu; dimana aku bisa merasakan kesedihanmu, pun kesungguhan hatimu.

Di bibir merahmu, tempat singgah rinduku; hangat meresap dalam kecupanmu, yang selalu membawa damai untukku.

PAGI sudah pagi, waktunya beranjak pergi. Asa yang diruapkan matahari, membawa kembali hati yang mati; bersatu kala pagi sudah pagi.

kupukupu merah jambu telah terbang jauh pergi, takkan kumiliki kembali; sama seperti sisa lipstikku di bibirmu tadi malam.

Setangkup haru dalam kerinduan di pagi hari kotamu, membawaku kembali ke masa lalu; dimana sebuah cerita kehidupan masih dinaungi oleh cinta.

Malam kelam tak terasa suram dengan hadirmu, tapi pagi menjelang dan ku harus pulang; tunggu aku di persimpangan senja itu.

Tak ingin kembali pagi, aq hanya ingin memenjarakan malam; menghentikan waktu dan menggantinya dengan detak jantung yang sama.

Semenjak kita berpisah; aku merindukanmu seperti malaikat maut yang sudah lama tak turun ke bumi.

Takkan pernah aku meninggalkanmu; hingga jenuh itu menghampiri hatimu.

Rindu adalah alasan terkuatku untuk tidak meninggalkanmu.

Aku mencintaimu, Maria, tanpa aku tahu apa itu cinta; hanya berusaha untuk membuatmu tersenyum, pun menjaga lelap tidurmu.

Waktu yang membelah samudera, jarak dari pertemuan kita; rindu yang selalu mendera, dari arak yang kita teguk bersama.

Ternyata benar; setelah pertemuan kita, rindu itu semakin mengkristal dan kekal.

Disana, di relung hatimu, ada jalan pulang untuk rinduku. Disana, di bawah payungmu, ada teduh yang selalu membuatku renyuh.

Cinta, bagiku, adalah rasa luar biasa yang kian hebat luka-lukanya.

Rindu untukku, seperti nyanyian nelayan di tengah samudera, menanti angin laut untuk berlabuh di pantaimu.

Hangat tubuhmu, sejukkan relung jiwaku; seakan mentari, telah tergantikan oleh senyum manismu.

Di matamu, tempat aku membaca rahasiamu. Di bibirmu, tempat labuhan segala rinduku. Di hatimu, rumah bagi sekelumit rinduku.

Keramahan sikapmu, sehangat matahari pagi tersenyum padaku.

MALAM aku terbiasa memelukmu; memecahkan kesunyian, menjinakkan rindu yang setan.

Terkadang diam itu lebih bermakna, daripada berkoar berbahasa cinta.

C.I.N.T.A; ciuman itu nempel terus asiknya.

CIUMAN adalah bahasaku, untuk mengatakan rindu; jujur dan gamblang, tanpa embel-embel.

Setiap bilah rumput, setiap butir pasir, setiap batu di sungai; seperti itulah cintaku padamu.

Tak ada pria yang memiliki wanita lebih baik darimu, cintaku.

Aku tak tahu seperti apa masa depanku nanti. Tapi kutahu satu hal; kamu ada di dalamnya.

Cinta, asalkan kakimu masih menapak di atas tanah; maka hidup kita akan tenang, pun damai.

Kehilanganmu, adalah seperti aku lupa bagaimana caranya tertawa seperti dulu.

Jikalau boleh bersandar padamu, aku akan bisa masuk; masuk kedalam ketenangan yang teduh, dimana malam tersipu malu.

Jam pun berhenti berdetak, saat cintamu telah botak; membuat jiwaku retak, dan tak mampu lagi aku untuk bergerak.

Mungkin aku telah menemukan pendampingku, yang akan menemaniku meraih sinar itu; kamu, nyawa di jantungku, cahaya di kehidupanku.

Kehilanganku merumput, kegilaanku menyambut; saat kau pergi membawa rindu dan kenanganku yang sejumput.

Tanpa malam, tak tahu apa itu kelam. Tanpa luka, tak pernah sadari tentang cinta. Tanpa menunggu, maka rindu hanyalah berlalu.

Jika hatimu terluka menangislah, hal itu akan membuatmu lebih baik. Bila aku menjauh menjeritlah, karena itu akan membuatku kembali.

Jarak dan waktu membuat kita sadar, bahwa kita sedang memandang langit yang sama; kerinduan.

Aku bisa menjadi puing-puing derita; asalkan kau mau berpindah tempat yang bahagia.

Mungkin sepi itu hanya dimiliki oleh malam; kekasih para galau yang sedang merindu.

Mungkin juga tangis hanya berbicara kepada lukanya, dan aku masih setia menunggu hibahnya; dari segala cinta yang ia punya.

Kita berucap cinta hanya bila sedang ketakutan; takut kehilangan dan takut akan kematian yang dapat memisahkan.

Semacam sihir yang dapat melumpuhkanku; cinta. Yang membawa pergi hatiku untuk selalu bersamamu.

Malam terus menidurlelapkan sang mentari karena ia mengerti; bahwa rinduku padamu tak cukup hanya untuk satu hari.

Penatku tertatih, kala malam ku melirih; demi sebuah hati, yang aku nanti hingga ku mati.

Bagaimana caramu melupakanku, kekasih?. Bila aku selalu sembunyi di balik kelopak matamu; yang selalu aku membasuh perih hatimu.

Ranum bibirmu; tempat aku memetik buah khuldi, yang merelakan nikmat surgawi demi bahagia bersamamu.
Pada rindu aku bersaksi, aku mencintaimu setengah mati, setengahnya lagi untuk hidup, bersamamu.

Ada malam dimana rindu terdiam, dalam kelam dan luka yang selalu bungkam, dalam hitam ia meronta dendam.

Ada kala dimana rindu itu terbiar, disaat malam tak lagi bersinar; tanpamu disisiku, kehilanganmu dihatiku.

Engkaulah peluk terhangat, belai terlembut, kasih yang tulus, engkaulah penyelamat kemarauku; layaknya hujan di bulan Juni.

Tak pernah aku rela kereta meninggalkanku, kecuali oleh ciumanmu.

Hai kekasih, apakah hati yg sedang kau buat dari butiran pasir itu untukku? Atau sebagai temanmu dikala kau menantiku berlabuh di pantaimu?

Apakah para perindu itu pendusta? Memanipulasi hati untuk tidak merasa tersakiti, dan hingga mati setia menanti?

Serupa senja warnamu, kian menghiasi malamku yang kelam nan suram menjadi tenang untuk dikenang, kekasihku.

Seperti rembulan yang tak pernah redup sinarnya membuat bintang berkilauan megah di tata surya; seperti aku mencintaimu tanpa lelah.

Sementara aku berdiri disini, diantara kepulan asap kenangan yang berterbangan, membakar sayap-sayap rinduku, membunuh sepi.

Tak ada yang lebih saru selain ciumanmu yang menggebu-gebu lalu kau pergi meninggalkanku.

Kenapa sih aku begitu menyayangimu; hingga dendamku begitu sangat?!.

Ada yang lebih bodoh daripada cinta; kamu, yang mencintai kebodohanku.

Ada yang lebih isak dari tangis perpisahan, yaitu pernikahan; puncak dari segala kebahagiaan pun kesedihan.

Malam tetaplah kelam, hingga kupukupu hinggap di jendela kamarku; membisikkan namamu berulang, membawaku tenang, terang, berang akan rindu.

Di remangremang matamu, tersirat puisi yang begitu saru; demi si dia, kau selalu membawa luka, menyimpan berjuta makna, beralaskan cinta yang lalu.

Pagi memberi arti, dari duka yang pergi, dan senyum yang selalu menanti; mentari di pelupuk matamu.

Aku pernah mati sekali, tapi tidak untuk meninggalkanmu sekalipun.

Aku tahu kamu sedang bersembunyi di tengah kegalauanku; rindu, yang memberi makan logikaku agar hidup untuk memuja hatimu.

Cinta, adalah anugerah yang diturunkan Tuhan ke bumi agar aku selalu tersenyum bahagia.

Malam-malam kelam bukan karena tanpamu, melainkan tanpa ingatan tentang kita di kepalamu.

Ada kala malam minggu menjadi malam yang sempurna; ketika kita saling.berjauhan tetapi hati dan ingatan kita selalu berdekatan.

Ada malam yang selalu suram; tanpamu di sisiku, kehilanganmu di hatiku.

Ada sebuah cerita yang kian abadi semestinya; tentang kita, rindu, dan segala perjuangannya.

Tak ada yang pernah berlalu di rinduku kecuali waktu; yang telah direnggut oleh luka-luka karena pernah kehilanganmu.

Semua kelam bagiku; ketika aku tenggelam dalam temaram malam nan suram tanpa bertuliskan namamu di dalam sajaksajakku.

Ada yang lumpuh, di otakku; ingatan-ingatan masa lalu tentangmu, yang haru, yang biru, yang tak mampu aku bunuh, hingga Tuhan yang menyuruh.

Izinkan aku pergi, Tuhan; bila tiada satupun nama yang mesti aku cintai, bukan hanya memandangi rembulan.

Andaikan saja rembulan berwarna kuning, akan aku bawa kepangkuanmu sebagai boneka dengan warna kesukaanmu.

Kecuplah bibirku yang sedang pecah-pecah ini; disana dapat kau rasakan nikmatnya luka-luka dari rindu yang sedang aku jalani.

Tidakkah kau begitu lembut, awan; yang selalu menggetarkan pesawat hatiku ketika sedang melewatimu, kerinduan.

Ketika rindu mulai bertasbih, ketika itu aku mendoakanmu hati; agar tak lelah untuk menanti, agar tak punah karena letih.

Perpisahan bukanlah duka, walaupun ciuman kita hanya tiga menit, tapi akan terasa untuk selamanya.

Engkaulah hati di dalam tubuhku, menyelimuti rindu di jiwaku; demi kembalinya padamu, hanya untuk sekedar mengingat namamu.

ketika jam di tanganku berhenti berdetak, ketika itu aku takut tak sempat untuk bertemu denganmu; memulangkan rinduku.

Ada yang surga di belahan dadamu; harum yang selalu membuatku rindu, cinta yang dibuahkan oleh nafsu.

Seperti aku, yang dibudakkan oleh rindu; disetiap langkah percintaanku, selalu aku melayani waktu.

Kelak kita akan berpisah, dengan atau tanpa nyawa; hati yang kelak mati, akan dimakamkan oleh cinta.

Ada yang berbisik dari riuhnya kata yang berisik, membisikkan sebuah tanya dari sebentuk larik; rindu.

Rindu dan sunyi yang gaduh, adalah nyawa dari sajaksajakku; yang berbekas pelukan, pun berlandaskan ciuman.

Gelak tawa yang kau bahakkan di keramaian, tak sedikitpun menutup sedih sedu pilunya rindu yang selalu menghantuimu.

Kau adalah satu-satunya yang membuatku hidup; kau adalah nafasku, nyawaku, dan nafsu makanku.

Ketika aku batuk ‘uhuk’, kau langsung membukakan pintu malammu; hingga kita menuju pagi bersama.

Merindukanmu itu seperti hujan. Walau terang aku kebasahan, tapi kau untukku adalah sebuah keajaiban.

Sama seperti rindu dibawa hujan, atau hujan dibawa rindu; hasilnya tetap saja sama, mentari kerap menanti senjanya.

Di bawah payung hatimu aku berteduh kala hujan, di balik acuhnya sikapmu kutemukan sebuah rindu yang rawan.

Dan sepi, yang mengiringi notasi malamku; bila kau pergi, sama seperti yang akan kulalui itu.

Kau adalah angin pembawa hujan; dikala hatiku terbakar penuh amarah, kau memadamkannya dengan sebuah ciuman.

Hujan, antara rezeki atau pun musibah?. Sama seperti rindu, antara sakit hati atau tabah.

Pernah terbayangkan olehku kamu; mati terhunus oleh pedangku sendiri, alangkah abadinya cinta kita.

Sajak sama seperti rindu, kedua kata yang berlawanan tak bisa dipaksakan untuk bertemu.

Dan yakinlah,adalah bahwa setiap sajak yang kutulis tak pernah luput dari namamu, pun untukmu. Buktinya, namaku sendiri saja aku lupa meletakkannya dimana.

Telah berpulang mug inggrisku. selamat jalan tempat singgahan bibirku; semoga tenang, kenangan.

RINDU yang berombak menuju hatimu, takkan kubiarkan tersesat di samudera berantah, takkan kubiarkan ia berlabuh sembarang arah.

MALAM menggodamu jatuh kepangkubYanku, dengan sedu yang menguap atau rindu yang selalu aku sesap.

Kesedihanku, adalah pangkuan rindumu yang tak kunjung datang saat malam tiba, pun hingga sirnanya.

Kupahami sikapmu, tapi yang lebih kudalami ialah kecupanmu; yang selalu membuatku rindu, aku mau itu.

Aku pilu saat kau berlalu, aku rindu saat kau menjauh.

Bila kau mau aku untuk melupakanmu; langkahi dulu mayatku.

Aku mencintaimu, sungguh aku merindukanmu; kukatakan sebelum aku tiada untuk meninggalkanmu; dari jasadku yang fana ini.

Aku adalah segala cinta yang terlahir dari manis gurat senyummu.

Tak ada yang lebih sempurna kecuali aku; yang dicintai ketidaksempurnaanku olehmu.

Kucoba meraba-raba hatimu yang hangat, tapi aku menemukan sesuatu yang lebih; sebuah rindu yang akut.

Sebuah cinta antara aku dan malaikatku, diantaranya adalah kamu; dewi surgaku.

Aku dan kenanganku, terkubur terkapar buyar diantara lantai yang berkoar biar!!

Perjalananku tak sampai disini, tak hingga salah satu dari kita mati; berakhir kala sang waktu mengangkat kedua tangannya.

Sang kodok, eh sang kodok, tertunduk pilu ketika kau memilih untuk menciumku; sesuatu yang lebih nyata dari sekedar cerita.

Cinta dan rindu, sama dengan luka dan pilunya.

Sebuah pemikiran bahwa; aku takut ditinggalkan; sama seperti kamu yang tak pernah mencintaiku.

Sebuah pilunya rindu yang aku derita, selalu tersedu kala malam tiba; memanggil-manggil namamu, menagih-nagih hangat pelukanmu.

Nyiur yang melambai-lambai kepada purnama yang jatuh kepangkuanku; ia rela melepasmu untukku.

Hujan di bulan Juni mungkin lebih bijak jika kita keluar bersamaan; menikmati awal yang indah, pun membasuh segala kenangan.

Aku, ingin merasakan puisi di sekujur tubuhmu, pun di bibirmu; tempat labuhan segala kerinduanku.

Hidupku tidak normal ketika bertemu pandang denganmu; seakan aku menjadi kuat dan lemah disaat bersamaan, seakan tidak ada yang lebih sempurna selain daripada itu.

Izinkan aku memahamimu, bukan dengan pemahaman yang engkau punya, bukan pula dengan cerita cinta; melainkan dengan satu kecupan darimu.

Di matamu, tempat segala kejujuran mengalir. Di senyummu, tempat aku merasakan bahagia. Di pelukanmu, tempat terhangat yang aku punya.

Aku sudah mati sebelum kau tiba, tapi aku terbangun saat mendengar suaramu, memanggilku.

Ada yang tak pernah berlalu; kenangan, yang selalu tak bisa kau hiraukan.

Tak adilkah jika aku menginginkan perawan; jika yang kau hiraukan hanyalah keuangan.

Jika sakit adalah nyawa dari luka, maka aku berada dalam putaran waktu; selalu merindumu.

Rindu, dan sunyi yang gaduh adalah nyawaku; yang terluka akan kenanganmu.

Masih berada dalam putaran yang sama; waktu, yang tak pernah menghapusmu, yang ada malah mengkristalkan kerinduanku.

Andai aku manusia besi, pasti telah berkarat setelah menyeberangi lautan waktu.

Tapi aku bukan manusia besi, yang akan karat setelah menyeberangi samudera hatimu.

Pertanyaannya adalah; masihkah kau merindukanku, jika aku sudah utuh menjadi milikmu?

hatiku bukan sembarang hati; ia selalu berhati-hati ketika menyeberangi egomu.

Hatiku bukan sembarang cinta, ia segitiga sama sisi; yang akan kau temukan binar matamu di setiap sudutnya.

Ada gegap dalam gempita; jiwaku pengap ketika melihat kau bersamanya.

Sudah makankah kau hari ini, sayang? Bila belum, aku siapkan sepiring cinta untuk membuatmu kenyang.

Setelah bertemu rinduku, hilanglah rasa laparku; kenyanglah aku makan cintamu.

Tak ada yang lebih mengenyangkan dari sepiring cinta; yang melegakan dahaga, yang membutakan mata.

Waktu berhenti berdetak, ketika aku mencuri pandang; untuk melihatmu.

Menelusuri waktu aku pasti menemukanmu; dengan nafas sebagai modalku, dengan rindu sebagai bekalku.

Kutemukan sebuah kitab sunyi didalam hatimu, yang akan aku terjemahkan dengan segala cinta yang aku punya.

Kubiarkan api cintaku membara, berasap memenuhi pengapnya udara; rindu yang selalu mengganggu tidurku, sepi yang terus menghantuiku.

Tak ada yang pernah berani mengusikku kecuali rindu; yang membuat ksatria jatuh luluh dihadapanmu.

Seseorang yang selalu merindukanmu; aku, yang tak pernah habis digerogoti sunyinya malam.

ini adalah waktu yang terik untuk rindu yang berisik pada jarak yang selalu bersisik.

Tak ada waktu untuk menangisimu; airmataku telah habis dimakan rindu.

Apakah sajak tak terlalu manis jika kau tak benar-benar cinta, apakah rindu itu semu bila kau dapat melupakanku, kenangan.

Hanya dalam diam aku dapat memahami rindu, hanya kala malam aku dapat merasakan hadirmu; di kesendirianku.

Galau dan parau itu sama seperti aku dan rinduku; terbata membaca jarak dan waktu.

Dan ternyata cinta yang selalu meneteskan airmata, merindukan kehangatan pelukan, bisik cintamu melalui sebuah ciuman.

Rindu merupakan permulaan daripada cinta, yang menyebabkan wajahmu terpantul dalam keseluruhan ruang; di hatiku.

Diantara kita tak ada berupa kenangan, karena kita hidup dan mati bersamaan; dalam cinta.

kuterangi wajahmu serupa cumbuan rembulan kepada bintangnya; disana ada kita dan rindu sedang bercengkerama.

Aku tahu kamu berada disana, keluarlah dari cermin; yakinkanlah bahwa aku bisa menjadi yang terbaik untuknya.

Aku ingin hidup di senyummu, sebagai penjaga hari sempurnamu; penuh canda dan tawa bahagia.

Aku ingin hinggap di matamu, tempat aku membaca hatimu; terjaga dan terpejam kau tetap melihatku, aku selalu menjagamu.

jikalau kau merindukan aku, buka saja jendela kamarmu; ada aku bersama angin yang terbang menujumu.

tak perlulah sajak tuk meraih cahaya,pun bintang demi rembulan; cukuplah dgn senyuman yg membuatnya aman,pun nyaman.

Anggur cinta memberiku cita yang mengawan; membumbung tinggi ke langit, dan terjatuh ke dalam pelukanmu.

Maka cinta, takkan terluka bila kau tidak fals meniup seruling senjanya.

Sebab cinta, akan selalu terbit dan bersinar; karena ia berasal dari jiwa yang murni, pun abadi.

Rindu ini hidup, ia melangkah tanpa kaki menujumu; merintih tertatih akan perihnya menuju kebahagiaan sejati.

Dunia tampak sepi; ketika aku memasuki negeri-negeri tanpa orang tercinta didalamnya.

Rindu yang terselubung, menyusup ke dalam lekuk liku dada; takkan hilang hingga waktu tak mampu lagi untuk bertahan, hingga aku kembali ke tempat nyawaku dituang.

Isi hatiku dengan namamu, maka bersinarlah dadaku penuh cahayamu.

Bersinar mataku sendu, berbinar gelakku rayu; kala rinduku berlabuh tepat di pelukanmu.

Maka bertemu kaulah kandil kemerlap, bak pelita di malam gelap; menjadi obat sebab rinduku.

Rindu selalu bersahut, luka hanya memagut; menanti hati kembali, di pelataran senja yang telah mati.

Namamu membumbung dalam baris sajak, rinduku menjunjung pada tujuh puncak; membilang-bilang nyeri, mengucap-ucap sepi.

Kuciumi wajahmu wangi bunga, harum semerbak putik nirwana; bercinta dalam kidung mesra, hingga waktu memaksa rindu tiba.

Bila rindu merupa pohon, maka dahan-dahan di hati bergetaran; menyeru namamu, memanggil cintamu.

Rindu hanyalah tubuhku, dan cinta adalah nyawaku; di dalamnya terdapat banyak rahasia ciumanmu.

Kukunyah mamahan kepedihan, sebab rindu yang selalu berkeliaran; di jiwaku.

Tanpa nafasku sendiri, aku dapat mencium aromamu. Tanpa kepalaku sendiri, aku dapat membelai indah rambutmu.

Tariklah misaiku ke dekatmu, maka kau tahu bahwa ini rindu yang gaduh.

Dalam persemayaman hati, banyak bentuk-bentuk yang tak terlihat menjadi semakin nyata bagiku; seperti kenangan dan lukanya.

Cintamu menyembuhkanku, dari duka yang kuderita. Namamu menerangi hatiku; lebih terang dari lumpur dan api.

Cinta adalah tempat untuk merubah kepribadian, perasaan, dan pikiran kepada satu tujuan; iman.

Sebab cinta yang merubah duka menjadi suka; membuat aku, kamu, menjadi kita.

Sebab nanar cemburu menjadikan lunglai bibirku; dimakan rindu yang tak sudah dan dirimu yang selalu melupa.

Cinta berkata: ada sebuah jalan yang berulang kali aku jatuh melaluinya; akal yang terhampar duri-duri.

Suaramu, nyanyian indah para malaikat dengan alunan musik surga.

Seperti benda berat yang dilemparkan ke dalam air, seperti itulah rinduku; begitu padat menyusup ke dalam lekuk liku hatiku.

Sajak dan musik yang kubuat adalah hidanganku; sebagai perangsang mengkristalnya rinduku.

Riuhnya rindu membarakan api, menggaduhkan sunyi; menyingkap kembali raut kenangan dan gurat-gurat luka.

Siapakah yang pernah melihat racun sekaligus obat penawar dalam satu; aku, adalah cinta.

Aku hanyalah pencinta yang menyampaikan rasa rindunya; dengan larik-larik namamu, dan syair dari wajahmu.

Rindu tidak punya pelanggan selain pelukan, darimu; dan ciumanmu sebagai alat tukarnya.

Aku lebih dekat denganmu bila tanpa baju; karena jubahku dipinjam oleh cinta.

Walaupun punya seribu sajak, pabila kau pergi dari hati; maka nyanyian rindu takkan pernah terdengar lagi.

Bibirmu terkandung anggur yang memabukkan diriku, yang membuat tubuhmu menjadi haluan kerinduanku.

Cinta adalah segala-galanya dan rindu adalah hijabnya; apabila kau tidak mengacuhkannya, jadilah aku burung tanpa sayap.

Dalam rindu, terkandung sumsum kewujudan roh cinta.

Tahukah kau mengapa cermin jiwaku memantulkan bayanganmu?. Itu karena wajahmu terkandung dalam nilai-nilai di hatiku; sebagai rindu.

Even though i’m not the only one for you, but I will be the one who you loved.

Berapapun waktu yang kian berlalu, sejauh apapun jarak yang membatasi rindu, satu hal yang masih terasa nyata di hidupku; yaitu kamu, dan segala kebaikan dari cintamu.

Aku merindukanmu, aku rindu mendengar nada-nada indah; dari gaduhnya ciumanmu.

Kau adalah cahayaku, wanitaku. Dan hujan turun deras karena tutur kesedihanmu; maka, tersenyumlah untukku.

Ada yang merindu, ada pula yang selalu tersedu; mungkin itu gelisah hati yang ingin selalu berpadu.

Akulah Tuhan dari kegadisanmu; penjaga kepolosanmu walau aku akan tetap berlalu.

Hatiku yang sedang kerasukan rindu; hanya tersadar oleh ciumanmu.

Tak ada kata cinta; selain daripada ciumanmu yang basah.

Dan badai terus melanda kotaku, petir terus menyambar hatiku; seiring dengan kehilangan cintamu.

Ada yang diam dalam hatiku, yaitu namamu. Ada yang gaduh dalam rinduku, adalah ciumanmu.

Aku percaya, bahwa segala perang akan digugurkan oleh satu musim; cinta.

Aku bersimpuh pada keabadian; doadoa yang kupanjatkan demi keselamatan cintaku padamu.

Terlihat langit menjadi kelam; ketika hatimu telah redup, pun cintamu yang karam pada jarak dan waktu yang kausiakan untuk merindu.

Kala malam cinta tak mengenal usia, kala siang cinta menantang dengan lantang perjuangannya.

Aku tak peduli walau semua benar dalam perang dan cinta. Yang aku peduli; bila kamu selalu di dekatku.

Cinta yang luar biasa, adalah kamu; yang biasa-biasa saja tapi memahami semua maksudku, termasuk merindukanku.

Meski dunia tak seindah sorga, tapi aku akan mengindahkanmu; sebagai sorgaku.

Terkadang, dunia tampak indah, pun sirna; karena kenanganmu.

Awal mulanya aku melangkah setapak demi setapak menelusuri harimu; akhirnya cintaku berjalan tanpa kaki menujumu.

Biarkan sakit flue ini tak sembuh-sembuh; hingga tibanya bibirmu menciumku.

Kubiarkan luka ini menggaruk-garuk kenangan, mengorek-ngorek kembali panorama indah senyumanmu; agar selalu terngiang memori saat kita bercumbu, dulu.

Kerinduan tiba-tiba menyerbuku; ketika wajahmu terpahat di dadaku.

Perihal ini selalu mengganggu tidurku, ketika kau jauh; wajahmu selalu mencoba mencumbuiku, di mimpiku.

Kenyataan ini selalu menghempasku; ketika aku merindukanmu yang berjarak jauh.

Kepintaran ini selalu membodohiku; ketika aku membenarkan cinta yang salah.

Kegalauan ini selalu menenangkanku; ketika aku mengingat, manisnya gurat senyummu.

Kita bagai perahu, dengan angin sebagai cintanya; yang mana akan membawa hati berlabuh.

Seperti alunan detak jantungku, seperti nada nada sendu; dari notasi kerinduanku.

Aku masih disini, bermandikan cahaya bintang. Dan kau masih saja terpikat pada sang rembulan, yang sinarnya memanipulasi perasaan.

Tak perlu berlama-lama untuk mengenalku, tapi berlama-lamalah untuk mencintaiku.

Cinta itu kebenaran, meski kau melihatnya samar-samar dengan berbagai kesalahan. Maka, perjuangkan!

Aku merindumu hingga ngilu, dan aku hanya berharap kau dapat merangkulku dan tak pernah berlalu; dari cintaku.

Aku bukanlah makhluk suci, bukan pula binatang yang keji. Aku hanya taat pada rindu yang bejat; yang ingin cepat bertemu bibirmu lalu kulumat.

Seudara rindu, adalah hiasan hayat; dari cinta yang nur.

Selangit harap, seudara rindu; menyuruhmu untuk merebah di dadaku, lalu menciumku.

Bersemangatlah cinta! Karena rindu selalu menunggumu, kasih membelaimu, pun ‘diam’ yang memahami isi hatimu.

Mata kita sendu, dengan lirikan malu-malu; saat engkau membuka bajuku, untuk melihat isi dadaku.

Luka setubuh-tubuhku, masih tak mampu melesapkan rindu sejiwa-jiwaku; kepadamu.

Biarkan aku mati, dan hidupkan kembali aku; bukan sebagai kenangan, melainkan debar di dadamu yang selalu bergetar.

Jarak dan waktu pun gelisah, ketika rindu telah tiada; cinta harus menanti siapa?

Dalam kotak waktu dan petak jarak; aku, dimabuk rindu berarak-arak.

Panggil aku cemburu, pada jarak aku mengadu. Panggil aku rindu, yang setia menanti waktumu.

Mangsa aku dalam cakar rindumu, agar aku tenang; bahwa kau cinta mencintaku.

Disana cintaku bersimpuh, disana rinduku berlabuh; di dadamu yang cakrawala.

Bagiku engkau rumah, dengan rindu sebagai kemesraan rahasia.

Engkau kupanggil, kupanggul, kusayang-sayang, sampai kemudian kau tancapkan pisau ke dadaku; engkau tetap kupanggul, kusayang-sayang.

Maka izinkan aku bertamu, kerumahmu; dimana disana aku dapat mencintaimu, bersemayam di dalam hatimu.

Kusebut asmamu, cinta; dengan penuh takjub aku lafalkan, rindu.

Adalah aku, yang tak pernah berakhir mengucap rindu; hingga malaikat maut menjemputku, yang menjadi akhirku.

Seperti butiran pasir, yang setia menanti nelayan berlabuh menjejakkan kakinya; seperti aku, yang tabah dalam menyulam rindu.

Disini aku dapat melihatmu yang disana tersenyum diantara reruntuhan rindu; mata yang berkaca-kaca, dan senyum yang kabut.

Dan hatiku berkarang, berbuih rindu yang usang, sudikah kau berkaca pada bintang, yang datang padaku dengan cahaya kunang.

Hatiku yang rimbun, menimbun rindu yang menahun.

Kumohon rindukan aku; agar nadiku tetap berdenyut.

Puisi, tempat indera kita dilahirkan; untuk merasakan kehidupan, pun kenyataan

Rinduku, seperti pejalan larut yang menembus kabut. Entah itu bersambut, ataupun takkan pernah kau balut.

Dibalik dadamu yang membuncah, ada sisa nafasku disana. Dibalik senyummu yang ramah, ada damaiku kau jamah.

Ada yang mendendam, ada yang merindu; keduanya sama-sama untuk mengingatmu.

Ada yang bintang ada yang terang, keduanya sama-sama berasal dari cakrawala; dari binar matamu.

Dari senyummu, ada kobar yang membakar semangatku;.berapi-apilah isi kepalaku.

Yang aku inginkan, adalah rinduku membelai lembut bibirmu, menggaduhkan malam dengan birahi rasa; sebagai penghela luka.

Di setiap petikan senar yang bergetar, ada rinduku memanggil namamu; di nada nadimu, di nyanyian malamku.

Kumainkan nada di gitarku, berbunyilah senar-senar kesepianku; yang pilu yang sendu, melulu menyanyikan rindu.

Helai demi helai kucabuti duri di hatiku; yang dingin yang beku, yang menggigil dalam kesepian waktu.

Masih mencari bias-bias wajahmu dalam beningnya embun; untuk menjawab penasarannya rinduku.

Rinduku termaktub di dalam dadaku, bila kau tak percaya; belah saja dadaku dengan rindumu.

Di setiap gelegar petir ada hatiku ikut tersambar, semoga saja ada yang jualan hati agar aku tak seperti zombie.

Aku sangat takut dengan perpisahan, maka tak ada lagi jarak dan waktu untuk kita merindu.

Kita telah banyak kehilangan, tapi kenangan selalu berada di depan; sebagai penyesat atau penuntun jalan ke depan.

Di luar rumah, seekor serigala menunggu puncaknya malam; melolongkan pilu kerinduannya pada yang tak pernah ada.

Di muka pintu rumahku, masih bergelantungan kenangan; dimana aku dan kamu pertama kalinya berciuman.

“mati muda itu tak sia-sia, yang berbahaya ialah bila hati yang mati selamanya” ujar sastra.

Seperti bahasa, cinta selalu tumbuh setiap masa; tak peduli apapun itu bentuknya.

Seperti perjuangan, terkadang cinta butuh tetes darah untuk meyakinkan perasaan.

Hati makin sepi makin gemuruh, ketika tiada lagi kejujuran. Hati makin sepi makin gemuruh, ketika berdustanya kebaikan.

Ah, matamu nun teduh, senyummu nan menawan; mengungkapkan keindahan langit dan mega di cakrawala angan.

Aku berterimakasih kepada senja, atas pertemuan cinta; meski hanya sebentar kilat cahaya, namun indah selamanya.

Aku sedang menunggu kereta, tetiba salah satu penjaga peron menghampiriku; dia bilang rinduku telah baka, tak mungkin menujumu.

Cintaku sederhana, aku disampingmu, kau memelukku, lalu aku mencium keningmu; tulus dan mesra.

Semua sempurna, gunung kau miliki, menaraku telah kau daki, kehangatan selalu kuberi, kenikmatan siap sedia di malam hari.

Adab kita yang purba menguraikan cinta sebagai bahasa yang terbuka.

Kuatkanlah hatimu, rindu; agar lebih ikhlas pada jarak dan waktu.

Memahamimu adalah dengan caraku mendengarkan semua ocehanmu; tanpa satu pun aku harus membalasnya.

Ada suatu cerita tentang cinta, ialah luka yang dibahasakan oleh kenangan, adalah rindu yang dialamatkan kepada ciumanciuman.

Di bawah langit aku bersimpuh doa, di cakrawala kau mengharapharap aku tiba.

Ada musibah yang tak terelakkan; adalah ketika kita diturunkan ke bumi untuk mencintai pencipta, pun ciptaan.

Luka kemarin sudah berakhir semalam, dan kini aku menujumu untuk bermalam.

Cintaku akademis, E=mc2; energiku berasal dari manisnya cintacintamu.

Kutebas cakrawala, agar aku dapat melihatmu; lebih dekat, dalam dekap.

Malam memaksaku tuk merapat ke sepi; mencerna kerinduan bernafaskan kenangankenangan.

Seperti angin yang mengkristal dalam darah; seperti rindu yang selalu menyesakkan dada.

Bak nada di nadiku; kerinduan menjadi denyut kehidupan sepanjang waktu.

Meretas telur kenangan, menyibakkan kerinduan yang telah lama hilang ditelan luka yang gelombang.

Kepedihan rindu, menggoresgores anganku, meledakledak inginku, melentinglenting di atas gentingnya harapku.

Di saat aku berucap rindu, engkau mengaduh pilu, lalu kita berkelebat bersama angin, mengertap bersama pintu rumahmu.

Pikiran sehat menerbangkan terbang; ketika rindu ditetesi buih kenangan.

Kita pernah melihat kemalangan, yang dirasakan sengat dari kekalahan; hati menggigil kaku, lunturnya rindu pada jarak dan waktu.

Kau adalah satusatunya detak jantung di dalam dada petiku.

Permohonanku sederhana; jangan kau pergi, agar jantungku tak pecah rinci.

Diantara rerumputan yang bergoyang aku menjelma bayang, dan kau selalu benderang serupa kunangkunang.

Seperti kata pepatah; dimana ada rindu, disitu ada aku.

Kamu bukan bocah, kamu wanita; sudah sepantasnya disanjung karena indah.

Telah kuselami hati yang paling makam, hingga malam tak lagi bisa membuatku tenggelam.

Seperti dudaduda tua, aku merasa gairah ketika bersamamu yang seakan remaja.

Seperti pencium yang ulung, aku selalu mengecup kenangan dengan lidah, agar kian basah.

Kau adalah prahara senja, setiap gerakgerikmu menyilaukan mata, lalu melesaplah sepi karenamu.

Aku mencintaimu, melati. Selalu merubah peluh menjadi sebuah teduh, mewangi.

Kalau kamu sedih, aku pun sedih. Makanya jangan menangis karena luka, mengharulah karena rindu.

Janganlah sesekali engkau menangis karena luka, tapi mengharulah karena rindu; yang setia menjadi jembatan penantian kita.

Selalu tak ada kata terlambat untuk menyembuhkan luka; yang sakit karena cinta, yang terus kian menganga.

Kenangan adalah sebuah kendaraan, dimana kita terbuai untuk menggapainya kembali di angan.

Tuhan selalu bersama orang-orang yang ingin memperbaiki masa depan, bukan masa lalu, begitupun perihal-Nya tentang cinta pun rindu.