I.Perjalanan hidup Udin

Pada suatu ketika, di akhir bulan Sya’ban, ada seorang anak bernama Udin yang tinggal di daerah Jawa-barat tepatnya di Sukabumi-cisaat. Udin yang masih kelas 4 SD ini sangat Rajin beribadah, selain dituntun oleh neneknya, Udin juga diberikan pemahaman rohani oleh wali kelasnya yang sekaligus Ustad di kampung cisaat itu, yaitu bernama pak Akil.

Udin saat ini tinggal bersama neneknya yang biasa dia panggil dengan sebutan “omah”. Orang tua Udin tinggal di Jakarta dengan kesibukan kerja mereka. Tapi Udin bersyukur tinggal di Sukabumi; dia banyak mendapat pencerahan dan wawasan tentang kehidupan.

Udin dengan perawakan polos, rambut tipis, putih bersih, kurus dan ingin serba tahu, selalu saja ia bertanya-tanya tentang segala hal dengan pak Akil; dari segi agama, kehidupan, sosialisai, dan hingga cara berpacaran yang baik. Pak akil selalu mengingatkan Udin tentang Shalat wajib dan berpuasa. Serta memberitahukan bahwa manusia di muka bumi ini wajib memilik pasangan hidup demi menjalankan perintah Allah; berumahtangga, bertanggungjawab, dan beribadat kepadanya. Dalam segi pacaran, pak Akil selalu mengingatkan bahwa sepasang kekasih adalah pemahaman dalam menuju perjalanan yang suci (pernikahan). Oleh karena itu, ada hak dan kewajiban dalam berpacaran, ada yang perlu dijaga dan dihindari dalam suatu hubungan yang belum mukhrim (suami-isteri); adalah seperti saling menjaga aurat dan menahan hawa nafsu dan memberikan dukungan kepada pasangan dalam hal prestasi serta saling mengingatkan untuk taat beribadat. Begitulah kira-kira garis besar yang pak Akil ajarkan secara lisan kepada Udin, dan udin pun memahaminya dengan baik.

II. Menyambut Bulan Ramadhan

percakapan Udin dan Pak Akil di kediaman Pak Akil (di ruang tengah Udin dan Pak Akil berbincang hangat sembari minum teh dikala senja).

Pak Akil: “Udin, masih ingatkah semua yang pernah bapak ajarkan kepada kamu, tentang keimanan dan kehidupan, bagaimana cara kita bersosialisasi; baik itu dengan sesama makhluk Allah dan kepada Allah dengan beribadat?!”.

Udin: “Ia pak, saya masih ingat semua ajaran bapak, dan saya melaksanakannya dengan baik demi mencapai Ridhonya pak, dan terimakasih bapak telah banyak memberikan syafaat; penuntun jalan hidup saya agar tak tersesat ke lembah yang gelap dan pekat, yang jauh dari keimanan”.

Pak Akil: “Baiklah kalau begitu nak, kamu sudah bapak anggap sebagai anak bapak sendiri, disekolah kamu murid yang berprestasi, di lingkungan kehidupan kamu seorang muslim yang taat beribadat, bagus! Pertahankan itu, bapak bangga sama kamu, Udin”.

Udin: (muka memerah malu, sembari tersenyum sipu lalu berkata). “Alhamdulillah… Semua berkat orang-orang disekitar Udin yang selalu mendukung dan mengingatkan Udin pak, dan sampai saat ini Udin masih butuh banyak pembelajaran kog pak”.

Pak Akil: “Alhamdulillah, semoga berkat Allah selalu menyertaimu nak, Amin”.

Udin: “Amin”.

Pak Akil: “Udin, tak terasa besok sudah memasuki tanggal 1 Ramadhan, yaitu bulan suci yang penuh ampunan, bulan penuh hikmah dikala kita ditempa untuk berpuasa; pastinya segala hal mengenai berpuasa bapak sudah ajarkan dahulu kepada Udin, apa kamu masih ingat?!”.

Udin: “masih, masih ingat pak, di bulan Ramadhan kita menahan rasa lapar dahaga serta hawa nafsu kita seharian selama sebulan, adalah melatih kita untuk lebih mensucikan diri dan lebih peduli kepada orang-orang yang kurang beruntung dari kita; yang kesehariannya kadang makan kadang tidak, bukan begitu pak?”. (Udin sembari tersenyum, dengan giat ia telah membuka pemahamannya tentang berpuasa, seperti yang pernah diajarkan oleh pak Akil).

Pak Akil: “ya! Begitulah kira-kira, kamu memang cerdas! Tapi Udin, jangan lupa juga bahwa di bulan puasa kondisi tubuh kita akan lebih lemah dari seperti biasanya dikarenakan kita menjalani aktifitas sehari-hari dengan perut yang kosong, oleh karena itu, ibadah tidak boleh ketinggalan, jangan malas-malasan dan pahala kita akan dilipatgandakan bila kita giat bekerja dan beribadat dengan ikhlas di bulan Ramadhan yang suci ini”.

Udin: “Ia pak, Udin mengerti”  (sambil mengangguk-anggukkan kepalanya).

Pak Akil: nah, malam ini kita akan mulai Sahur pertama, apakah Udin bersedia sahur bersama bapak di kediaman bapak?!”.

Udin: “oh, maaf pak.. Saya bukannya tidak mau  tetapi omah saya sudah masak dan pastinya menantikan sahur bersama saya pak, mungkin di lain hari saya akan sahur bersama bapak sambil kita berbincang-bincang menyenangkan lagi pak, terimakasih atas ajakkannya pak”.

Pak Akil: “baiklah, tidak masalah.. Bapak nantikan kamu kapan saja mau datang dan sahur bareng bapak, bapak akan senang hati dengan kehadiranmu, temanilah omahmu di sahur yang pertama ini ya Din”.

Udi.: “baik pak, oh iya.. Hari sudah hampir gelap dan sebentar lagi sudah mau magrib, Udin pamit dulu ya pak Udin sudah berjanji kepada omah untuk pulang sebelum magrib pak, terimakasih atas jamuan dan pembicaraannya”. (Udin tersenyum sembari beranjak dari tempat duduk dan mengambil tangan kanan Pak Akil lalu bersujud dan minta izin pulang).

Pak Akil: “ia nak, hati-hati di jalan dan salam buat omahmu ya”.

Udin: “baik pak, Udin pamit.. Assalamualaikum”.

Pak Akil: “Waalaikumsallam…”.

Udin beranjak dari rumah pak Akil dan dia bergegas pulang kerumahnya untuk mengejar shalat magrib berjamaah di rumah bersama omahnya. Udin tinggal hanya berdua saja dengan omahnya, opah sudah wafat dan Udin hanya anak tunggal.

III. Indahnya berpuasa

Waktu sahur telah tiba, tepat pukul 3.00 WIB omah sudah memasak masakan kesukaan Udin untuk sahur, yaitu sayur bayam, goreng ayam, dan tahu goreng. Omah memasak spesial untuk hari yang spesial di puasa pertama ini. Udin sangat suka sayur-sayuran, karena sayur itu penuh kalsium dan dapat membuat tubuh kita lebih kuat untuk menjalankan aktifitas sehari-hari kita tanpa lemas. Sebelum menyantap masakan omah, Udin dan omah berdoa bersama, doa sebelum makan yang doanya adalah: “Allahumabarighlana fimmarazaqtanna wakinna azabbannaar”. Selesai berdoa kami menyantap makanan dengan lahap, omah sampai tersenyum melihat Udin yang lahap makannya dan Udin pun tersenyum karena malu terlalu menggebu menyantap masakan omah yang lezat.

Waktu imsak hampir tiba, Udin dan omah sama-sama melafalkan niat berpuasa: “Nawaitu shaumagoddin an’adai fadlu syahri romadhoona hadihissanaati fardon Lillahita’aala”. Selesai adzan kami pun shalat subuh berjamaah. Biasanya setelah shalat subuh, Udin bersiap-siap untuk sekolah, dikarenakan puasa pertama ini libur untuk sekolah, Udin mengerjakan berbagai kegiatan di hari puasa pertama ini, adalah seperti menulis cerpen dan puisi, ikut pengajian di masjid, dan bermain kerumah teman sembari belajar kelompok mengenai pelajaran-pelajaran di sekolah.

Memang sih, kata orang tidur itu adalah ibadah di bulan puasa, tapi tidur juga jangan sampai meninggalkan ibadah kita yang lainnya seperti shalat. Tidur adalah ibadah karena lebih baik daripada mengumpat orang lain dan berbuat tercela. Tapi, alangkah baiknya bila kita tidak menyiakan waktu di bulan suci ini, kita beribadat dan menahan hawa nafsu dan lapar dahaga. Bulan yang penuh hikmah dimana pahala kita akan dilipatgandakan dan dosa-dosa kita diampuni.

Dengan menjalankan aktifitas di bulan puasa, kita dapat memahami susahnya orang tua kita mencari nafkah di kesehariannya, terkadang telat makan demi mencari sesuap nasi untuk kita, anak-anaknya. Dan kita dapat lebih memahami orang-orang yang kurang beruntung dari kita, yang susah mendapatkan makanan dan tempat tinggal, kita harus bisa lebih menghargai itu. Hubungan dengan sesama makhluk hidup (manusia) dan kepada Allah SWT Tuhan yang maha Esa.

Itulah modal Udin untuk menjalani kehidupan; selalu taat beragama, menjalankan ibadah, patuh kepada orang tua, saling menghargai sesama manusia, dan bersikap rendah hati serta banyak belajar. Insya Allah, dengan begitu kita akan menjalankan kehidupan dengan baik. Dengan Ridho-Nya, kita akan dijauhkan dari segala siksaan api neraka dan dimudahkan segala urusan di muka bumi. Semoga Udin dapat mengajak teman-teman untuk lebih memahami dan saling menghargai seperti yang Udin lakukan dan jalani sekarang ini, demi mencapai kesuksesan duniawi dan akhirat nanti.