“tidaakk!!!” teriakku dalam hati. Kekasihku Alden yang lama kunanti pulangnya kepelukanku ternyata ia malah bersanding dengan yang lainnya. Betapa perihnya hati ini menaiki pelaminan dan menyalami kedua mempelai, yang si pria adalah cintaku yang pernah jauh; cinta yang mencintaku dahulu. Aku kuatkan hati dan tak pernah menoleh ke belakang lagi sewaktu aku meninggalkan resepsi pernikahan itu, selamat tinggal bahagiaku.

<<>>

(Phia)

Masih di  waktu yang sama, dikala pagi hari aku selalu termenung dengan beban di kepala; memendam rindu dan sunyi yang gaduh tanpamu. Masih saja kulihat secarik kertas di atas meja rias di kamarku, yaitu sepucuk surat yang berisikan puisi cinta yang kau kirimkan tahun lalu. Masih saja, dan selalu kubaca di setiap malam kuterjaga:

Dear my lovely, Philosophia

CINTA YANG BERTUNGKUS LUMUS

Menekuk-nekuk kaki menyeret hati kehadapanmu, kekasih

Menanti-nanti jarak dan waktu yang akan menghormati rindu ini

Merelakan semua pergi demi satu tujuan; memilikimu, kekasih

Melepaskan semua angan hanya untuk bersamamu, periku

Menjadi-jadi kristalan dari rindu yang maha ini, kekasih

Akan kujualkan kepadamu lalu kau beli dengan sebuah ciuman, rinduku

Aku, dengan segala kerendahan hatiku, dengan segala ketinggian anganku bersamamu

Selalu bersamamu

Melupa-lupa apa yang akan terjadi nanti; walau badai! Walau kiamat!

Walau dadaku tertembus panah sekalipun!

Asalkan kau tak sirna dari kehidupan di bumi hatiku, periku

Kau yang benar-benar terkasih, cinta yang kukasihi

Segenap laraku memintamu jatuh kepelukanku, selalu

Lalu kuangkat kau kembali ke langit bersama pangkuan awan yang berbisik;

Hujan takkan pernah membasahimu

Karena pelangi menyelimuti hatimu; dari kesedihan

(Alden)

Nah, pagi ini aku terkena radang tenggorokan, amandelku bengkak, kepala pusing cenat-cenut, dan hidung mampet. Lengkap deh semua penderitaanku. Dan aku masih saja mencoba menghisap rokok Marlboro lights yang kuambil dari sakuku. “tidak ada alasan untuk tidak merokok” ujarku. Sambil tertawa memegang batang rokok yang baru saja mau aku hidupkan, “hohohoho, no smoking is killing me”.  Yuuupp  tanpa rokok, mungkin aku bisa kehabisan inspirasi.

Genap dua tahun aku berpisah dari phia demi pekerjaanku, dan masa depanku. Selalu saja aku berusaha menyempatkan waktu untuk menuliskan sebuah surat untuknya, dan terkadang menghubunginya lewat telepon. Maklum, aku jarang menggunakan teknologi internet, jaringan sosial, dan lain sebagainya. Aku hanya selalu mengirim sepucuk surat kepadanya. Mungkin karena aku sebagai penulis dan bekerja di salah satu perusahaan penerbit terbesar di Indonesia, jadi aku hobi menulis dan selalu senang mengungkapkan perasaanku lewat tulisan; terlebih untuk kekasihku nun jauh disana.

Seperti biasanya pekerjaanku hari ini, menulis naskah dan mengedit beberapa naskah yang masuk. Yuupp, aku adalah editor di kantorku, di salah satu perusahaan penerbitan buku. Memang sih gajinya tak seberapa, tapi itu sesuai dengan minat dan bakatku. Sebagai penulis, aku menyukai keindahan, mencintai kebenaran, dan mengagumi kebijakan. Tiga hal itulah yang selalu menyelamatkanku, dari kehidupan, maupun menanti kematian.

Setibanya aku di kantor, seperti biasanya mejaku penuh dengan kertas-kertas dan makalah yang berjumlah puluhan dan harus aku cek satu per satu. Dan aku selalu sempat duduk termenung sembari memikirkannya, merindukan Phia, wanita yang memang selalu aku impikan sosoknya sedari dulu: yang kini menjadi kekasihku selama kurang lebih tiga tahun ini.  Oh Phia, rambut hitam lurus, matamu nan teduh, bibir tipis merah jambu, hidung mancung, kulit putih bersih dan wangi, tubuhnya elok dan proporsional, senyumnya menawan, wajah manis dan ayu, dan dia cerdas, peka, serta bijak. “Ah, sudahlah” pikirku, terlalu lama merenung tak menyelesaikan pekerjaanku. Lalu aku berhenti merenung dan mulai bekerja seperti biasanya,  dengan semangat Phia yang ada dalam pikiranku; giat bekerja demi dapat hidup bersamanya, nanti.

>>flashback<<

Setelah kelulusan

Phia dan AL duduk di dalam kelas dan berbicara berdua mengenai masa depan mereka

Phia        : “ Al, setelah ini kamu ingin berlanjut kuliah dimana, atau kerja?”.

Al        : “belum tahu Phia, tapi aku sudah mengirimkan C.V ku ke beberapa perusahaan yang butuh penulis atau editor,  kalau kamu bagaimana?”

Phia        : “bagus dong Al, semoga C.V mu cepat ada jawaban panggilan, dan kamu bisa menyalurkan lebih bakat penulisanmu, kalau aku sepertinya melanjutkan kuliah disini saja AL, tidak kemana-mana”

Al        : “ia, semoga, tapi Phia, bila aku bekerja nantinya, pastinya nanti kita akan berjauhan, semoga kamu dapat mengerti dan menyimpan rindu kita untuk jarak dan waktu yang akan membatasi kita nantinya”

Phia        : “ia Al, aku selalu mendukungmu, aku akan selalu merindukanmu” ucap Phia menenangkan.

Setelah lima tahun berpacaran jarak jauh

Phia dan Al hilang komunikasi semenjak satu tahun yang lalu, hubungan mereka mulai renggang. Mungkin karena jenuh menunggu, atau karena kesibukan mereka. Mereka hanya sempat berkomunikasi pas weekend, dan itupun hanya sebentar berbicara melalui telepon. Ternyata berpacaran jarak jauh itu tak sekedar hanya membina kepercayaan dan pengertian, LDR juga dibutuhkan kemapanan hati untuk mengatasi kejenuhan dalam diri, melawan egoisme dan emosional, tak cukup dalam kedewasaan dan bijak. Hubungan jarak jauh juga  harus belajar memupuk harapan, disaat jarak dan waktu yang menjadi musuh bebuyutan. Harapan mengenai cinta, tentang bagaimana kita meyakini diri kita sendiri bahwa kita dapat mengatasinya dan mendapatkan solusi dari suatu hubungan jarak jauh tersebut. Dimana kita mesti meyakini diri bahwa kita bisa, mempercayainya dan menjalananinya. Jika tidak bisa, ataupun belum matang untuk itu, pupuslah sudah hubungan jarak jauh itu.

Banyak godaan-godaan menggiurkan dari suatu hubungan jarak jauh, dari penampilan lawan jenis yang lainnya, dari pihak keluarga dan teman yang terkadang menanyai keadaan kita kepada kekasih yang jauh, dari kepercayaan yang mulai memudar, dari jenuh yang mulai gaduh memaksa kita untuk menaikkan sauh dan berlayar entah kemana demi menemukan hati yang baru. Hati yang dapat benar-benar menemani hari-hari, menyentuh halusnya kulit Kekasih, menghangatkan malam dengan sebuah pelukan, merasakan getaran-getaran rasa dari sebuah ciuman, semua yang nyata yang di tuntut oleh perasaan.

Di telepon

Al        : “halo Phia, apa kabar?”

Phia        : “eh, Al.. kabarku baik, bagaimana denganmu? Sudah lama yah kita tidak ngobrol lewat telepon”

Al        : “ia Phia, maafkan aku yang tak sempat mengabarimu. Mungkin aku yang terlalu sibuk atau aku yang terlalu lama merenung. Maafkan aku yang telah menghilang beberapa saat yang lalu dan tak ada untukmu”

Phia        : “ia AL, aku mengerti, tidak apa kog. Aku selalu memahamimu dan menantimu dengan sabar disini. Jadi, kapan pulang dan bertemu dengan rindumu, Al?!”

Al        : “aku belum tahu Phia, oya, sudah sampaikah suratku padamu minggu lalu?”

Phia        : “oh iya, ada kog tapi belum sempat kubaca Al, masih kusimpan. Ada apa ya Al, sepertinya kamu terdengar sangat gelisah, kamu kelihatan berbeda dari biasanya Al”

Al        : “emmm, begini Phia, sebelumnya aku minta maaf; bahwa orang tuaku telah menjodohkanku dan akan menikahkanku di akhir tahun ini, ini serius dan aku sangat minta maaf”

Phia        : *langsung menutup teleponnya tanpa kata-kata*

Al        : “Phia, Phia!”

Ternyata Phia sebenarnya sudah membaca surat dari Al, surat yang berisikan puisi perpisahan, menjelaskan hubungan indah selama ini tapi tak akan sampai pada jalan yang mereka inginkan. Dan Al sangat terpuruk, dia tidak bisa menolak pilihan orang tuanya. karena orang tua dari wanita yang dijodohkan olehnya adalah atasan dari papanya Al yang akan menyelamatkan kondisi  ekonomi keluarga Al. Dan selain itu, Al juga sudah jenuh kepada Phia, dia tak bias membohongi perasaannya. Tapi Al kagum dengan ketabahan dan kesetiaan Phia, dia kagum dengan wanita tegar yang satu itu. Phia kini menjadi kenangan.

Sepucuk surat terakhir dari Al

Dear my beautiful memories, Phia

INGAT AKU

Pada suatu ketika., kala malam tenggelam kelam dalam temaramnya

Yang dibingkai oleh hias bintang,

Dan bermuara pada samuderanya cahaya rembulan

Disana ada aku, ada kamu, ada cerita tentang kita

Yang terukir dengan pasti dan tertanam dalam hati

Kala waktu itu, kita selalu bercerita;

Bersandarkan awan, berhiaskan aurora dari pelangi di matamu

Kita bercerita, tentang cinta, luka, dan airmata

Tentang hidup, rindu, dan hilangnya masa lalu

Kenangan itu kasih, kan menjadi mahkotaku;

Walau aku, kan menaiki singgasana kehidupan baru tanpamu

Dan ingatlah bahwa kita pernah bernyanyi merdu;

Bersama rindu kita, yang kini telah bersauh entah kemana

Tapi yakinlah, bahwa kau tak pernah mati;

Di hatiku