“Dengan memakai rumus klasik dan berisikan nyawa yang berisik”.

Rumus klasik yaitu sajak/puisi dengan pola; AAAA, ABAB, ABBA. Aku nyaman dengan pola ini, serta menimbulkan rima yang baik, bagiku.

Nyawa yang berisik itu contohnya seperti; rindu dan luka.

-rindu; seperti sunyi yang gaduh, pikiran tidak tenang dan hati selalu saja menuju sesuatu (dia selalu berisik karena banyak menuntut pada jarak dan waktu).

-luka; teriakkan kata dari teririsnya cinta. Memekikkan cerita dengan sebuah jeritan akibat goresan; bisa dari kenangan, bisa dari pengkhianatan. (dia terasa hidup karena kita merasakan goncangan kejiwaan setiap dia berada di dalamnya; sajak/puisi).

Nah, seperti itulah kira-kira menurutku dan bagaimana caraku mengutarakan isi hati dan pikiran melalui sebuah tulisan, bagaimana denganmu?

(sebelumnya saya hampir tidak pernah meng-arsip sajak, sajak begitu saja keluar dan tertulis serta di publish dengan sendirinya langsung dari apa yang kurasa; oleh karena itu saya selalu lupa kapan saja saya membuatnya).

Terimakasih,

@DenisRaditya