Gema riuh angin bersiut ria, menyambut sang matahari dengan cerahnya;
Hari ini, hari berbahagia dengan penuh suka cita.
Hari dimana semua datang dengan tatapan renyuh dan sendu menghampiri keluarga tercinta.
Ada yang merindu lama tak bersua, ada bulir-bulir tetes airmata, ada pula yang menanti untuk terisi dompetnya.

Di balik itu, di balik tirai bambu yang merdu memanggil namaMu; sang angin tersedu melihat habisnya purnama, lewatnya malam seribu bintang, dan masih menanti hingga Ramadhan tahun depan.

Di hinggap beringin itu, ada yang menanti harap; dengan sengir yang membahana sembari memicingkan mata;
Para Syaitan dengan segala tipu muslihatnya, menantiMu mengoyakkan selaput yang mengekang dirinya agar dapat meniup-niupkan hawa maksiat kepada manusia; yang selama ini telah terkunci selama bulan suci.

Hari merdeka telah tiba, mari kita rayakan bersama! Mari kita menangkan hati kita;
Dan tak lupa pula untuk setia bersujud kepadanya;
Untuk merdeka kembali dari godaan syaitan dari kini hingga Ramadhan tahun depan nanti!.

“perang kita belum usai, saudara!”.