Kepada hatiku, yang selalu merebahkan perasaannya pada tempat yang nyaman. Kepada tubuhku, yang selalu merindukan sentuhansentuhan yang dapat melesapkan kesendirian. Kepadaku, yakinkanlah dan tenangkanlah dahulu hati dan pikiranmu.

Berceritalah sepasang burung hantu tentang kejadian semalam, tentang seduan sang rembulan. Mereka bertengger di pucuk ranting rapuh, yang dibakar langsung melepuh. Bisik-bisik tentang bintang yang hilang disertai dengan tangisan sang rembulan. Dan para burung lainnya berharap-harap pada kilauan yang mungkin kembali pulang.

Teruntuk kamu, yang tabah walau terluka hatinya, yang setia menemani rindu dan cinta; aku haturkan banyak terimakasih kepadamu, pun jarak dan waktu.

Sang Maha cinta, ajarkan aku cara membasahi hati dengan airmata; agar tak kering kerontang jiwaku merana.

Berbahagialah cinta, bila sering menangis dikala senja.

Aku lupa cara jatuh cinta pada-Mu, yang seharusnya lebih dari mencintai diriku.

Ada yang datang, ada yang pergi. Tapi itu lebih baik daripada diriku yang tak pernah kemana-mana.

Bisikan aku bahasa kalbu, gemakan aku suara panggilan-Mu; agar aku merasa pilu, dari segala dosa-dosaku.

Aku mencintaimu dalam sepi, di goronggorong di langitlangit; tempat kita memadu kasih secara sengit.

Puisi seperti sampah dan sajak yang membauinya; melekat dan melesap dalam perasaan kita.

Terimakasih cinta, kau yang telah memberikan kekuatan padanya dalam sebuah perpisahan.

Terimakasih rindu, yang telah menjadi jembatan untuk kecupankecupan.

Berbahagialah senja, walau mentari tenggelam dan kau kan sirna, namun terkenang selamanya.