Aku terduduk, di muka gang kecil yang gelap pinggir jalan. Begitu gelap dan penat, basah. Gang itu begitu sempit, hingga sudut pandangku terhimpit; oleh keheningan malam dalam sebuah gang yang letaknya di pinggir kota pun jarang dijamah kendaraan.

Sembari menunggu orang yang tak akan pernah datang, aku menikmati kesendirian dalam keterdudukanku yang tenang; walau diselimuti kelam, tapi aku merasa damainya malam.

Mungkin gang gelap ini menakutkan, bagi sebagian orang yang jarang menyentuh kegelapan. Mungkin pula mereka hanya tidak dapat melihat sudut terang dalam gang itu. Karena yang seharusnya kita takuti, bukanlah gelap pada penglihatan; melainkan gelapnya hati dan nurani.

Aku mulai sedikit takut, hingga kelamaan menjadi luar biasa tenangnya. Gang gelap yang menyeramkan, tetapi menenangkan. Tidak seperti hiruk pikuk kota yang banyak kendaraan lalu-lalang, bukan pula seperti gedung-gedung yang berisikan orang-orang yang hanya mementingkan kemenangan, demi dirinya sendiri ia berjuang. Mereka tidak pernah ada kata puas, hingga  dapat menguasai seluruh tingkatan, demi mengejar angan menghalalkan pembantaian.

Gang gelap penat ini, berisikan orang-orang pinggiran yang terbuang, tapi tidak pernah mati kelaparan.

Gang gelap penat ini, gang gelap penat ini, lalu terang-benderang.