Aku berjalan menelusuri hari, kehidupanku yang biasa saja dengan tingkah laku yang tidak biasa sebagai musisi. Panggil aku dengan sebutan “D”, aku musisi yang bisa dibilang “freak” and “weirdo” yang dalam bahasa indonesia artinya “aneh” dan pecundang”. Menjadi bahan olok-olok dan caci sudah lumrah bagiku sedari kecil, kurang kasih sayang dan selalu menjadi pelampiasan amarah itu sarapan pagiku. Mungkin sifatku yang tidak lazim seperti anak-anak kecil lainnya, atau memang aku mempunyai suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lainnya??. “Pertanyaan yang bodoh”, ujarku.
Semua hal dalam kehidupan sedikit banyak telah aku lalui, yang tidak pernah di lalui oleh orang seumurku. Mungkinkah itu perjalanan hidupku? Atau aku dewasa sebelum waktunya?. Dan jawabannya ialah, “semua ada hikmahnya”. Tidak ada manusia dewasa sebelum waktunya, dan perjalanan hidup itu (nasib) itu kita yang tentukan sendiri. Aku mensyukuri itu, dengan begitu pola pikirku lebih jauh dan panjang serta intelek 10 tahun kedepan di banding anak seumurku. Tapi sebagai gantinya, aku selalu di cemooh teman seumuranku, aku kurang kasih sayang karena hidup mandiri selagi kecil, dianggap “orang aneh”.
Aku terima semua celaan, karena aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi, aku hanya orang biasa yang menjalani hidup dengan tidak biasa. Aku sendiri, berjuang memecah karang. Bayangkan saja di umurmu yang 8 tahun itu, kau sudah bisa mencuci, merokok, berpikiran mesum dewasa, memasak,membaca buku-buku filsafat dan keagamaan yang berat seperti (Dajjal, Plato), aku mengajar ngaji, memberikan tauladan kepada teman, sekalipun guruku di sekolahan.
Aku hanya anak pesimis yang mempunyai mimpi yang besar secara optimis. Mungkin kepribadianku bisa dikatakan sebagai Koleris-Melankolis. Aku pendiam, selalu menghindari konflik, walaupun di setiap harinya aku selalu di jahilin dengan anak-anak yang menganggapku aneh. Mereka melempariku dengan batu-batu kerikil dan meludahiku, sungguh ironis tapi nyata. Semua aku lalui, memendam dendam yang positif, aku akan tunjukkan kepada mereka apa itu sebenarnya kehidupan, ujarku dalam hati.
Lalu aku kembali tinggal dengan orang tuaku di umurku yang ke 13 tahun, sudah 8 tahun semenjak umurku 5 tahun aku berpisah, sendirian, pedih. Anehnya, aku merasa riskan, mungkin karena sudah terbiasa hidup sendiri, menjual kelereng dan layang-layang serta mengajar ngaji untuk mencari uang jajan sekolahku dulu. Anak mandiri yang aneh, berpikiran maju tapi masih saja labil sesuai umurku, ujarku. Kasih sayang dari kedua orang tua pun saat ini aku rasakan, walau telat tapi itu indah. Seakan aku terlindungi dari kejamnya kehidupan.
Masa SMA tiba, kata orang itu masa keemasan. Disana aku bertemu teman-teman yang lucu, mengutamakan kesenangan hidup daripada memikirkan kelanjutan hidup. Aku mencoba menjalaninya seperti anak normal lainnya, mencoba mencari kesenangan. Disanalah aku mulai mengerti musik, mendengar, mencintai, dan bermain musik. Aku pemain bass di grup band ku yang mengusung aliran musik funk. Asik, ceria, dan memang benar merasa seperti dewa di masa SMA ini. Egois ku bermunculan, nakal, dan liar aku rasakan di dalam diri. Bertanya dalam hati “mungkinkah ini sifat kekanak-kanakanku?’. Tapi aku tak berpikir, aku hanya menjalaninya dengan normal.
Waktu terus berlalu, kini aku beranjak dewasa. Setelah lulus sekolah aku mencoba mengsinkronkan semua catatan dari kisahku. Yaitu baik-buruk, benar-salah. Semua ku pikirkan kembali dan mencoba menelaah dari semuanya, mengambil hikmah dan menyeimbangkannya, belajar bijak dan ikhlas. Memang sulit, tapi itulah kehidupan dengan segala likunya, mendewasakan kita agar dapat menemukan jati diri.
Sampai akhirnya aku tak sengaja menyetel radio di kamarku, tak tahu saluran apa yang kuputar. Tersentak ketika aku mendengar sebuah lagu yang menurutku “luar biasa”. Lagu yang belum pernah aku dengar, liriknya kuat mencerminkan diriku, dan nuansa lagu yang hebat. Setelah mendengar dari radio, aku langsung mencari judul lagu dan penyanyinya, terus mencari hingga akhirnya dapat dan ku unduh di laptop ku.
“Creep” By: Radiohead
When you were here before, couldn’t look you in the eye.
You’re just like an angel, your skin makes me cry.
You float like a feather, in a beautiful world.
I wish i was special, you’re so fuckin special.
BUT I’M A CREEP, I’M A WEIRDO, WHAT THE HELL AM I DOING HERE?
I DONT BELONG HERE.

Lagu ini menceritakan tentang orang yang aneh yang mempunyai angan yang tinggi, ia merasa ia juga berhak dicintai, di hargai seperti manusia lain pada umumnya. Orang yang berjuang dengan keyakinannya yang kuat, menjalani hidup dengan keras dan sikap optimis walau diri pesimis. Bagaimana aku tidak kagum? Liriknya begitu kuat menggetarkan jantungku, notasi lagu dan musiknya membuatku terbang seakan masuk ke duniaku sendiri. Merasa asing di kehidupan orang-orang normal. Lagu ini berasal dari band Inggris; Radiohead berjudul “Creep” yang diartikan “pecundang”.
Lebih lengkapnya, lagu itu menceritakan seorang pria yang mengejar wanita idamannya. Tetapi wanita itu sangat spesial, sempurna baginya. Sedangkan dia hanya pecundang dan orang yang aneh. Begitulah, sama seperti kita menjalani kehidupan. Aku merasakan hal yang sama. Aku merasakan bahwa “kasih sayang” itu adalah hal yang istimewa, yang aku tidak dapatkan sedari kecil saat memang benar-benar dibutuhkan. Aku hanya orang aneh yang sendirian di tengah keramaian. Pola pikirku terus melaju kencang sewaktu orang-orang sedang diam. Entah berpikir apa, aku tetap berpikir, seperti mesin yang tak perlu daya tenaga apapun. Aku sebagai seorang pemikir, dan perasa yang peka.

Aku mensyukuri apa yang telah selama ini aku jalani, baik dan buruknya aku ambil hikmahnya. Bila aku tidak menjalani kehidupanku seperti ini, mungkin aku hanya seperti anak-anak seumuranku pada umumnya. Lagu “creep” itu membuat hidupku makin bergairah, banyak pesan moral disana. Terutama bagi yang merasa terkucilkan, aneh, dan selalu terpuruk oleh cinta dan kasih sayang.
“jangan takut untuk membuka diri kepada siapapun, dan jangan takut untuk ditinggalkan sendirian”.
Karena menjadi orang yang aneh itu mungkin termasuk spesial selama logika kita masih normal, dan pola pikir kita maju serta optimis. Aku petik semua itu dari lagu itu. Untuk menjadi orang yang speisal, mungkin dari diri kita sendiri yang mencerminkan hal yang baik kepada orang lain. Sekalipun orang itu menterpurukkan kita.
“terbanglah tinggi dan tegas seperti elang, serta menyelam dan tersenyumlah seperti lumba-lumba, hiduplah demi kehidupan yang akan dijalani”.
Ini kehidupanku dengan segala kemelutnya, bagaimana dengan kehidupanmu??!.
OPTIMIS.

Inspired by: [Creep-Radiohead].